”Tidak ada manusia yang betul-betul paham tentang perasaan orang lain. Sekalipun perasaan itu sudah mengakar dengan kuat seperti pohon yang tumbuh lebat, subur, dan meneduhkan orang yang singgah di bawahnya. Karena perasaan itu masih sibuk bercumbu dengan keraguan”

Namaku Ivan, dan namanya Nina. Kami saling kenal karena kebetulan kami berlibur ke tempat yang sama saat liburan kelulusan SD. Orang tua kami ternyata juga saling mengenal. Setelah itu kami bertemu lagi di SMP yang sama dan sekelas pula.


Dari sana aku tahu kalau Nina anak yang pintar, pandai bergaul, ceria dan cerewet. Tapi itu yang membuatnya menjadi pribadi yang menyenangkan. Nina juga berparas manis, dengan mata bulat dan kulit sawo matangnya.

Tidak butuh waktu lama untuk mengakui ke diri sendiri bahwa aku menyukai Nina.

Lantas apakah aku mengungkapkannya? Jaman dulu, anak SMP justru malu melakukan hal-hal yang  disebut “nembak” atau apalah itu. Lagi pula, aku merasa minder karena postur badanku waktu SMP cukup besar dan sering diejek gendut oleh teman-teman yang lain. Meski begitu aku senang sekali bila Nina yang memanggilku dengan sapaan “Ndut”.

Alih-alih mengungkapkan rasa, aku lebih memilih menjahilinya. Setiap hari di sekolah, ada saja cara yang ku lakukan demi mendapatkan perhatiannya. Seperti menyembunyikan botol minumnya, menaruh permen karet di tempat duduknya, atau mengejek bentuk giginya. Padahal nggak ada yang salah dengan gigi Nina. Malah dia terlihat manis sekali jika memperlihatkan giginya ketika tersenyum. Lagi-lagi memang itu caraku supaya bisa dekat dengannya.

Terbukti dengan Nina yang selalu berteriak “Ndut..!!! Ini pasti kerjaan kamu ya. Awas ya, ntar aku balas!”. Ekspresi kesalnya sungguh menggemaskan dan membuatku tertawa. Nina bukan anak yang lemah atau pengadu, tentu saja dia juga membalas menjahiliku. Pernah suatu hari aku harus mendorong motor berkilo-kilo meter karena Nina mengempeskan ban motorku di parkiran. Tapi aku sama sekali nggak marah atau kesal. Namanya juga cinta, api yang membara saja bisa padam dengan satu kedipan mata.

Ketika lulus SMP, aku tetap nggak bisa bilang kalau aku suka sama dia. Padahal aku tahu dia akan pindah ke luar kota. Ntahlah, hati kecilku bilang kalau ini bukan saat yang tepat. Aku merasa kami masih terlalu naif untuk membicarakan cinta. Meskipun aku menjamin bahwa perasaan yang kupunya tidak main-main.

Namun biarlah kali ini, jarak memberikan jeda untuk aku dan dia.

Tiga tahun berlalu, aku dan Nina sama-sama sudah lulus SMA. Memang kami jarang sekali berkomunikasi. Tapi aku selalu tahu kabarnya. Aku tahu kalau dia punya dua mantan pacar waktu SMA. Aku tahu dia selalu tiga besar saat penerimaan rapor. Aku bahkan tahu nama-nama sahabat dekatnya.

Segala sesuatu tentang Nina adalah cerita yang tak pernah membosankan untuk disimak.

Bagiku Nina adalah buku favorit yang selalu kubaca dan ku kenang setiap rangkaian katanya. Nina adalah puisi paling indah yang pernah diciptakan seorang pujangga yang sedang dimabuk cinta. Nina adalah nada-nada terindah dari merdunya sebuah lagu.

***
Sebenarnya aku juga sempat punya pacar waktu SMA, yah hanya karena ikut-ikutan teman biar nggak terus menerus diejek jomlo. Kebetulan juga gadis itu duluan yang bilang suka padaku. Aku terima saja. Ternyata hanya bertahan satu bulan. Susah memang hubungan tanpa perasaan.

Lagipula ketika semester dua di tahun terakhir di SMA, aku sedang giat berlatih dan menurutkan berat badan. Aku bercita-cita ingin masuk akademi militer. Bagaimanapun juga, itu impianku sedari dulu. Aku ingin membanggakan orangtuaku dengan cara ini.

Mimpi dan harapan adalah motivasi yang terbaik. Sampai aku berhasil menurunkan berat badan yang awalnya 102kg menjadi 60kg dalam waktu kurang lebih enam bulan saja. Secara fisik, bentuk badanku berubah drastis. Tidak hanya kurus, otot-ototku juga berisi. Otomatis ini menambah kepercayaan diriku.

Tentu saja aku lebih semangat untuk bertemu Nina.

Setelah kelulusan SMA dan mengurus segala sesuatunya, aku berangkat ke kota X untuk menemui Nina. Aku yakin dia akan terkejut melihat perubahan bentuk tubuhku. Aku deg-deg-an membayangkan reaksi seperti apa yang akan dia berikan?

Aku sengaja diam-diam janjian dengan sahabat Nina untuk menemui mereka di sebuah restoran cepat saji.

Dari kejauhan aku memperhatikan Nina yang asyik bercerita dengan teman-temannya. Aku yakin dia masih cerewet seperti dahulu. Selalu ada topik yang dia bicarakan, dan selalu menyenangkan untuk mendengarkannya.

Aku berjalan perlahan ke arah Nina sampai dia menyadari kehadiranku.

Aku melihat Nina menoleh dan menatapku, mulutnya setengah terbuka kemudian berkata “Hah? Ndut? Ini beneran kamu? Wah, berubah banget. Keren banget sih bisa kayak gini”.

Senyumku otomatis merekah sumringah. Motivasiku diet memang bukan semata untuk menarik perhatian Nina, tapi mendapatkan pujiannya seperti mendapatkan bonus yang luar biasa. Kerja kerasku selama enam bulan terakhir terbayar sudah.

Sekalipun aku sudah jauh lebih kurus daripada dulu, Nina tetap memanggilku dengan panggilan “Ndut”. Dia bilang, itu sudah semacam panggilan khas untukku dari semenjak kami SMP dulu. Aku nggak menolaknya sama sekali, malah ku anggap itu adalah panggilan sayang dari Nina.

Semenjak itu kami jadi dekat lagi. Kalau nggak ketemuan, kami pasti sering telponan dan SMSan. Lagipula waktu itu aku masih belum melanjutkan kuliah. Aku mengisi waktu dengan latihan sambil menunggu seleksi akademi militer dibuka.

Aku juga membantu Nina mempersiapkan masa orientasi perkuliahannya. Aku bahkan rela bangun subuh-subuh dan jemput Nina di rumahnya, lalu mengantar ke kampusnya karena di masa orientasi dia nggak boleh bawa kendaraan.

Nggak cuma antar-jemput, aku juga membantunya membeli perlengkapan Ospek, membantu menyiapkannya, apapun yang bisa kulakukan pasti kulakukan. Jelas, karena aku menyayanginya sejak dulu. Sejak kami masih sama-sama suka saling ejek satu sama lain. Saling mengusili satu sama lain.

Setelah masa ospek Nina selesai, aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku padanya. Beberapa bulan lagi aku akan ikut seleksi masuk akademi militer di ibu kota, sebelum berpisah lagi aku nggak mau kehilangan Nina untuk kedua kalinya.

Singkat cerita, Nina menerimaku. Dia bilang, dia merasa diperlakukan sangat baik ketika bersamaku.
Tentu saja hal itu sangat membahagiakan. Bertahun-tahun memendam perasaan, akhirnya aku mendapat jawaban yang diinginkan. Aku bersyukur dulu nggak terburu-buru menyatakan perasaan. Bisa jadi dulu aku ditolak karena Nina hanya menganggapkan perasaanku sebatas cinta monyet.

Semenjak Nina jadi pacarku, aku berusaha membahagiakannya semampu yang aku bisa. Membelikan apa yang dia mau, mengantarkan kemana saja dia perlu. Pernah waktu itu Nina ingin sekali nonton film Harry Potter. Sayangnya setiap ke bioskop kami selalu kehabisan tiket dan itu membuat Nina bad mood seharian.

Besoknya aku bangun pagi-pagi, bersiap-siap dan segera ke Mall. Bahkan bioskopnya saja belum buka. Tujuannya supaya aku bisa mendapatkan tiket film yang diinginkan Nina. Aku mengantri sekitar empat jam. Setelah dapat aku menelpon Nina, dan aku bisa merasakan kebahagiaan dari suaranya yang berteriak kegirangan.

Setelah mengantri, aku pulang dulu untuk mandi karena badanku basah kuyup berdesak-desakkan saat membeli tiket. Kemudian menjemput Nina untuk nonton bersama.

“Kamu senang nggak akhirnya bisa nonton film ini?”

“Senang banget lah. Kamu kan tahu aku sudah baca semua seri buku Harry Potter. Masak aku nggak nonton filmnya”

“Aku senang kalau kamu senang”

“Makasih ya, Ndut”

Nina tersenyum dan akupun tersenyum.

Sejujurnya aku bukan penggemar film Harry Potter. Aku bahkan belum pernah membaca novel atau menonton filmnya. Tapi demi Nina aku rela melakukan apa saja. Perlu diingat juga, waktu itu belum ada sistem online untuk pembelian tiket. Apalagi kurir dan ojek online.

Aku berharap Nina melihat perjuanganku untuk membahagiakannya.

Sebenarnya apa yang istimewa dari Nina, sampai aku melakukan apa saja untuk menyenangkan hatinya?

Jawabannya karena hanya dia yang bisa membuatku jatuh cinta.

Aku bukan tipe laki-laki yang mudah suka sama wanita. Sekalipun dia lebih cantik, lebih pintar, lebih baik, lebih segala-galanya dari Nina.

Hanya Nina yang bisa membuat jantungku berdegup nggak karuan saat berada di dekatnya. Hanya Nina yang bisa membuatku tertawa mendengar celotehannya yang panjang. Hanya Nina yang bisa membuatku juga merasakan kesedihan saat dia bersedih.

Semasa aku berpacaran dengan Nina, aku yakin kami akan bahagia selamanya. Aku yakin dia akan menungguku hingga selesai menempuh ilmu di Akademi Militer. Aku yakin dia akan jadi supporter utama dalam pendidikan dan karirku. Aku yakin dia akan bersabar sampai aku kembali dan menjemputnya untuk menjadi pendampingku selamanya.

Keyakinanku berdasarkan rasa cintaku padanya.

Sampai-sampai aku lupa untuk menyadari apakah Nina punya keyakinan yang sama atau tidak

“Alhamdulillah aku lulus seleksi akademi Militer. Aku senang banget, akhirnya kerja keras aku terbayar”

Nina adalah orang yang aku telpon dan memberitahukan kabar gembira itu setelah orangtuaku.

“Alhamdulillah, selamat ya Ndut. Kamu pantas kok dapatin itu”

“Kamu bakal dukung aku, kan?”

“Memangnya selama ini aku nggak dukung kamu?”

“Maksud aku, kamu mau kan nungguin aku sampai pendidikan aku selesai?”

“Hm...Aku nggak yakin bisa”

“Kenapa?”

“Kamu kan tahu aku nggak bisa LDR. Aku anaknya manja. Kamu juga yang selama ini manjain aku. Nganterin aku kesana-sini, nemenin aku kemana-mana, selalu ada disaat aku butuh. Terus sekarang tiba-tiba kamu nggak ada. Aku tahu nanti kamu bakal nggak bisa pegang handphone beberapa bulan, kan? Kebayang nggak sih aku punya pacar tapi berasa nggak punya?”

“Kok ngomongnya gitu? Ini juga buat ngebanggain kamu”

“Ya udah kita lihat nanti ya, kita coba dulu. Semoga aja aku bisa”

Jujur aku agak kecewa dengan respon Nina. Aku menilai Nina wanita yang ceria dan kuat. Ternyata dia justru menyalahkan sikapku yang terlalu memanjakannya. Tapi bagaimanapun dia adalah Nina yang kucinta. Aku nggak bisa kesal atau marah terhadap sikapnya.

Termasuk ketika dia minta putus via telpon disaat aku mau memulai pendidikanku.

Nina bilang dia nggak akan bisa LDR. Meski begitu dia berjanji akan menunggu. Tapi tidak dalam ikatan pacaran. Dia nggak mau menunggu dalam ikatan hubungan apapun.

Jujur aku sedih waktu itu. Bertahun-tahun aku menahan perasaan, kemudian aku mendapatkan jawaban yang diinginkan, hanya beberapa bulan hatikupun hancur berantakan.

Untungnya pendidikan militer yang sibuk dan keras membuat fokusku teralihkan. Aku tidak terus menerus memikirkan Nina. Tapi aku tetap mendo’akannya agar dia selalu sehat. Aku berdo’a kalau tidak sekarang, semoga Tuhan mempersatukan kami di pelaminan.
***

Beberapa tahun kemudian aku sudah menyelesaikan pendidikanku dan mulai bekerja. Waktu itu media sosial Facebook sedang hits. Tentu saja aku juga membuat akun dan mengupload foto-foto narsisku. Dari sana juga aku menemukan akun Nina.

Dari facebook juga aku tahu ternyata Nina juga sudah bekerja. Aku bangga dengan pencapaian Nina meskipun aku tidak menemaninya dari awal merintis karir. Sama seperti dia yang nggak ada disaat aku berjuang hingga sampai di titik sekarang.

Meskipun begitu perasaanku tetap sama untuk Nina. Apalagi dulu kami putus bukan karena penghianatan. Aku bisa memaklumi Nina yang nggak bisa LDR. Jadi, bagiku Nina tetap Istimewa.

“Hai Ndut, apa kabar? Selamat ya sudah jadi TNI nih”

Nina memberikan komentar pada foto profilku. Tentu saja aku girang bukan kepalang. Mungkin ini jalannya untuk menjalin kembali hubunganku dengan Nina yang sempat merenggang,

“Hai juga, bu. Kamu juga sudah sukses sekarang J

“Dih kok Ibu, sih. Emangnya aku udah kayak ibu-ibu”

“Becanda, kali. Ih, Sensitifnya masih sama kayak dulu. Masih suka ngambekan ya?”

“Masih. Apalagi semenjak ditinggal. Hahaha”

Percakapan itu berlanjut sampai ke telpon dan chatting. Dari obrolanku dan Nina, dia sedang nggak punya pacar.

Aku tetap menaruh harapan pada Nina. Aku memang ditugaskan di ujung pulau bagian timur waktu itu, tapi hanya dua tahun. Setelah ini tentu aku bisa mengurus pindah dan menyusul Nina. Aku nggak akan bilang hal itu sekarang. Karena aku merasa masih butuh menyiapkan mental dan beberapa hal sebelum mengajaknya ke jenjang yang lebih serius.

Sementara itu aku dan Nina msih sering telponan bahkan video call. Menatap wajahnya dari layar ponsel saja sudah membuatku senang. Apalagi membayangkan kalau wajah itu kelak akan kujumpai dari bangun tidur hingga akan tidur setiap harinya sampai aku menua.

Suatu hari, Nina pernah bilang kalau dia ingin segera menikah. Tapi nggak tahu menikah dengan siapa karena belum ada calonnya. Entah maksud Nina memberiku kode atau apa, tapi aku hanya ikut mendoakannya supaya bisa cepat dapat jodoh yang terbaik. Di dalam hati tentu aku berharap jodoh yang terbaik untuk Nina adalah aku.

Bukannya aku nggak mau memberikan harapan kepada Nina bahwa aku akan datang kepadanya untuk menjalin hubungan yang serius. Berkaca pada pengalaman, aku tahu Nina nggak akan mau untuk menunggu. Jadi aku hanya diam dan berharap nggak ada laki-laki yang berani melamar Nina lebih cepat dariku.

“Mungkin lebaran nanti aku pulang, mau mampir juga ke tempat kamu”

“haa? Serius, ndut? Mau ngapain ketemu aku?”

“Yaaa, pengen ketemu aja kan sudah lama nggak ketemu”

“Iya, maksud aku kalau ketemu mau ngapain?”

“Ya, ngobrol aja. Silahturahmi”

“Oh, gitu. Ya udah nanti kabarin aja lagi”

Sayangnya ketika beberapa hari sebelum tanggal yang dijanjikan untuk menemui Nina, dia bilang nggak bisa ditemui karena ada kerjaan yang nggak bisa ditinggalkan. Susah untuk mengatur hari lain mengingat aku hanya diberikan libur beberapa hari. Sedangkan aku juga harus ke rumah orang tua dan beberapa saudara.

Padahal kami sudah begitu dekat, tapi entah kenapa takdir tak berpihak. Mungkin lain kali, aku akan ke rumah Nina. Sekalian untuk melamarnya. Semoga Nina bisa bersabar, setidaknya hingga tahun depan.

Namun sejak itu ada yang aneh dengan Nina. Dia pelan-pelan mulai jarang menghubungiku. Kalaupun aku yang menelpon duluan, dia bilang sedang sibuk atau sedang ingin istirahat. Aku berusaha memaklumi, mungkin memang dia sedang banyak kerjaan. Sampai beberapa bulan kami benar-benar tidak ada kontak sama sekali.

Suatu hari ada pesan masuk di handphoneku, dari Nina.

“Hai Ndut, apa kabar? Kalau nggak sibuk, aku mau telpon”

Aku yang baru selesai latihan, langsung bersemangat melihat pesan itu. Tentu saja langsung kubalas dan bilang bahwa aku sedang nggak sibuk. Nggak lama kemudian nama Nina muncul di layar ponselku sebagai panggilan masuk.

“Halo”

“Halo, Na. Apa kabar? Kemana aja?”

“Ada. Nggak kemana-mana. Cuma lagi sibuk aja”


“Oh, banyak kerjaan ya?”

“Iya, lagi ada yang disiapin.”

“Tahu deh yang wanita karir. Aku doain semoga lancar semua kerjaan kamu”

“Makasih ya, Ndut”

“Aku udah lama nggak dengar panggilan itu”

“Ehm.. iya, sebenarnya ada yang mau aku bilang”

“Iya, bilang aja”

Sejujurnya aku senang banget mendengar suara Nina setelah beberapa bulan terakhir kami nggak saling kontak. Kalau saja Nina bisa melihat wajahku waktu itu, senyumku sumringah sekali. Jantungku berdegup kencang. Hal ini terus terjadi setiap aku ngobrol sama Nina sejak dulu.

Nina yang kucinta. Ninaku yang cerewet. Ninaku yang Manja. Ninaku yang bisa membuatku tertawa. Namun Nina juga yang menggoreskan luka.

“Aku mau ngundang kamu”

“Maksudnya?”        

“Aku mau nikah dua minggu lagi”

“Ha? Aku nggak salah denger? Sama siapa?”

“Ada, kamu nggak kenal. Senior aku. Kami juga baru kenal beberapa bulan terakhir. Aku bilang ke dia kalau aku nggak mau pacaran lagi, aku maunya langsung nikah. Ternyata dia juga serius. Kami ngobrolin visi misi, ternyata nyambung. Mama Papa juga ngasih restu. Makanya aku bilang akhir-akhir ini aku sibuk, karena persiapan pernikahan ini. Aku tahu sih kamu nggak gampang dapat izin dari kerjaan, tapi kalau pas banget kamu bisa, kamu datang ya. Semua teman-teman SMP kita aku undang juga. Jadi sekalian rame-rame kita reunian.”

“Selamat ya. Nggak nyangka ya jodoh kamu cepat juga datangnya. Semoga nanti jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Iya kalau aku bisa dapat cuti, aku datang.”

“Makasih ya Ndut. Makasih juga selama ini udah support aku. Aku juga doain kamu cepat nyusul ya.”

“Nggak lah. Emangnya aku kayak kamu, kebelet kawin. Hahaha”

“Dih, kan aku udah pernah bilang emang udah pengen nikah. Wooo”

“Hahaha. Ya udah ya, aku ada apel malam nih bentar lagi”

“Oke, tapi diusahain datang ya Ndut”

Aku mematikan telpon. Seketika ada yang menusuk tajam di dalam dada. Dengan tangan gemetar aku cari nama Nina di daftar nomor kontak, dan aku block. Begitu juga dengan semua akun chat dan media sosial Nina. Bola mataku terasa panas, perlahan pipiku terasa basah.

Aku memejamkan mata dan berharap ini semua hanya mimpi. Bagaimana mungkin hanya dalam hitungan bulan, takdirku menjadi seperti ini. Sakit rasanya membayangkan bahwa Nina akan menjadi istri orang.

Ditelpon tadi aku bisa menguasai suaraku agar terdengar biasa-biasa saja. Latihan bertahun-tahun sebagai anggota militer membuatku terbiasa untuk bersikap tegar. Namun aku juga manusia biasa. Pertahananku hancur setelah telpon kumatikan.

Aku merasa menjadi pria paling bodoh. Padahal aku mengenal Nina sejak SMP. Keluarganya bahkan sudah mengenaliku dengan baik. Andai waktu itu aku nekat datang ke rumah Nina dan meminta restu pada ayahnya, aku yakin akan diterima.

Siapa pria itu? Bagaimana mungkin dia bisa memiliki Nina hanya dalam waktu beberapa bulan saja? Kenapa Nina mau menikah dengan pria yang baru dia kenal dibanding aku yang sudah dia kenal bertahun-tahun? Kenapa Nina nggak bisa melihat bahwa dari dulu akulah orang yang paling tulus dengannya?

Kepalaku serasa mau pecah dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit kutemukan jawabannya.
Padahal aku adalah seorang anggota militer. Aku terbiasa menghadapi serangan, aku terbiasa keluar masuk hutan, aku bahkan pernah hampir diterkam macan, aku tidak gentar sedikitpun. Tapi untuk urusan perasaan, aku terlalu ciut dan pengecut.

Kalau aku bisa memutar waktu sedikit saja, aku pasti akan langsung menemui dan melamar Nina. Aku akan melakukan apa saja agar bisa jadi pendamping Nina selamanya.

Seandainya aku tidak kuat iman, ingin rasanya aku menghancurkan rencana pernikahan Nina.

Namun aku sadar, aku salah karena sudah menyia-nyiakan kesempatan. Nina berhak bahagia tanpa harus menunggu lama. Nina adalah wanita yang pintar. Dia pasti menerima laki-laki itu dengan pertimbangan yang matang.

Aku mengingat pertama kali berkenalan dengan Nina, aku mengenang masa-masa jahil kami, terbayang rasa senangnya ketika dulu aku menjadi pacar nina, masih jelas dalam ingatanku wajah nina yang tersenyum, wajah Nina yang cemberut, wajah Nina yang serius ketika menjelaskan sesuatu, wajahnya yang sendu ketika ada hal yang membuatnya bersedih. Namun itu semua tinggal kenangan. Memilikinya pun hanya tinggal angan-angan.

Nina, Ninaku yang kucinta. Kini sudah habis cerita di antara kita. Namun namamu akan selalu ada di dalam do’a.


-Tamat-


Note :

Makasih yang sudah baca cerpen ini. To be honest, memang cerpen ini berasal dari kisah nyata orang terdekat saya. Tentu dengan penambahan disana sini. Jadi mohon maaf kalau penggambaran karakter dan watak tokoh kurang detail. Kalau detail ntar  orang-orang di circle saya langsung bisa nebak siapa Ivan dan Nina, hahaha.

Intinya dari cerita mereka saya cuma pengen bilang bahwa nggak semua orang bisa peka dengan keadaan dan perasaan. Dia nggak akan pernah tahu apa yang kita rasa kalau kita nggak bilang. Jangan sampai terlambat dan pada akhirnya kita hanya bisa berharap bahwa mesin waktu itu ada.