Bismillahirrahmanirrahim..... 

Belakangan ini udah gak asing banget kan yah dengar istilah Mom War yang ram dibahas di medsos. Meskipun bukan perang dengan membawa senjata, apalagi ini ibu-ibu yang jadi bintangnya tapi yang namanya perang tetap aja selalu bermakna negatif.


Mom War? Sebab dan Akibat yang Ditimbulkannya

Kalau dilihat dari berita yang beredar di dunia maya (maupun nyata), penyebab utama adanya Mom War adalah rasa ego dari seorang Ibu untuk mempertahankan pendapatnya. Merasa diri bahwa cara mengasuh, mendidik, dan memperlakukan anak versinya-lah yang paling benar.

Terkadang tanpa kita sadari, uhuuk, kamu aja kali Di yang merasa gitu, kita itu ingin menunjukkan bahwa "cara saya nih yang paling benar dalam mengasuh anak. Toh, itu anak saya koq, pastilah saya yang paling tahu tentang anak saya, kebutuhannya dan segala hal tentang anak saya!" Ahaa! Hal yang kayak gini nih bisa jadi penyebab adanya virus Mom War itu. 

Akibatnya bakalan terjadi deh jambak-jambakan rambut perang mulut untuk mengutarakan pendapat masing-masing. Nah, kalau udah terjadi kayak gini, salah siapa? Pasti gak ada yang ingin disalahkan, yes? 😀


Apa Saja yang Bisa Menimbulkan Mom War? 


Yeaaahh, kurang lebih hal-hal di ataslah yang biasanya sering menimbulkan adanya Mom War baik offline maupun online. Biasanya sih, lebih ramai kasus online yah ketimbang offline, biar viral kali yah, xixixix. 

Padahal setiap Ibu pasti punya alasan sendiri mengapa harus memberi sufor daripada ASI, misalnya. Atau kenapa Ibu lebih memilih memberi MPASI instan daripada homemade MPASI. Memilih metode memberi makan dengan bayi disuap atau membiarkan anak makan sendiri (baby lead weaning, BLW). 

Kalau saya sendiri karena udah pengalaman dulu Kakak Faraz menolak tiap kali diberi makan, waktu itu saya ngotot hanya ingin memberinya homemade MPASI saja tapi tiap kali waktu makan yang ada dia menutup mulut rapat, hanya memilih ASI ketimbang makanannya. Meski saya sudah berusaha membuatkan makanan yang bisa menarik seleranya, tetap aja dia GTM, gerakan tutup mulut. Saya sampai pusing sendiri dibuatnya. Syukurnya sih saat itu saya bisa berada sepanjang waktu di sampingnya, jadi ASI selalu siap sedia.

Nah, jadilah sekarang untuk Adek Fawwaz saya tidak mau ngotot untuk homemade MPASI, saya sudah beberapa kali mencoba memberinya. Sudah masak dengan sepenuh hati tapi ditolak, hanya mau makan yang instan saja, huhuh. Daripada gak mau makan sama sekali, mana saya sekarang tidak bisa selalu berada di sampingnya. So, MPASI instanlah yang jadi pilihan untuknya. Masalah buat Moms? Gak dong yah, jangan karena hal ini jadi perang buat kita yah! ✌

Baca juga: Do What You Love

Atau yang paling rame dibahas juga adalah Ibu yang lebih memilih melahirakan SC daripada normal. Kontra pun muncul dan menclaim bahwa Ibu yang lahiran normal-lah yang bisa disebut Ibu sejati, yang mengorbankan nyawa demi melahirkan anaknya. Aduuh, sedih banget yah, padahal Ibu-ibu yang melahirkan SC pun juga itu meregang nyawa untuk menyelamatkan anaknya. Butuh waktu lama bagi mereka untuk bisa pulih dari luka, belum lagi trauma. Pasti memilih SC juga karena punya pertimbangan tersendiri, alasan medis dan keselamatan buat Baby dan Ibu pastilah sudah dipertimbangkan. 

STOP Mom War! Kita Ibu; Kita Special!

Sebagai sesama Ibu, sudah seharusnya kita itu bisa untuk saling support bukan sebaliknya, saling mencari celah, saling menjatuhkan. Bisa saja kita beda pendapat tapi cukuplah disimpan saja, tidak perlu saling berdebat berlebih. Cukup saling mengingatkan jika merasa itu harus diutarakan. Jika dianggap tidak perlu komentar, bukankah diam itu emas? Gak rugi koq Mak, kalau kita bisa kontrol diri untuk tidak ngomong sesuatu yang membuat orang merasa tersakiti. Coba saja bayangkan, bagaimana jika kita berada pada posisi orang tersebut? Disalahkan ataupun disudutkan itu pasti tidak enak, yaakaaan? 😁

Setiap Ibu itu special! Karena Ibu pasti mengetahui segala sesuatu yang terbaik untuk anak-anaknya. Tidak mungkin Ibu ingin melihat anaknya sakit, tersiksa atau hal buruk lain yang menimpa sang anak. Setiap Ibu pasti akan memberikan yang terbaik untuk sang anak. Makanan, pakaian, perhatian, pendidikan dan segala hal yang menjadi kebutuhan anak. Bahkan seorang Ibu akan rela mengorbankan dirinya sendiri untuk kebaikan sang anak.

Baca juga: Semangat Kartini, Semangat Wanita Hebat Indonesia

Jadi, wahai para ibu dan calon ibu stoplah menyalahkan metode pengasuhan yang dilakukan oleh ibu A jika caranya berbeda dengan cara ibu sendiri. Stop pula membanding-bandingkan sesuatu yang bisa menimbulkan perpecahan diantara kita, karena sesungguhnya setiap Ibu punya caranya sendiri dan punya pertimbangan sendiri dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Hargai pendapat dan pemahan Ibu lain dalam mengasuh buah hatinya. Jangan cari celah ataupun kesalahan orang. Bukankah damai lebih indah daripada perpecahan? Kita adalah Ibu, kita special karena kitalah madrasah pertama bagi anak-anak kita. Di mata anak-anak, Ibu adalah segalanya baginya. 🤗


Postingan kali ini sebagai tanggapan untuk Collab Blogging Kelompok Retno Marsudi atas trigger post Mak Indri Noor yang menulis tentang Stop Mom War, Dimulai dari Diri Sendiri di web KEB.