bolehkah-ibu-merasa-capek-natrarahmani

Tadi malam, saya dititik pengen nangis sekencang kencangnya dan menjauh dari semua. Saya lelah batin dan raga. Tidak punya tenaga untuk sekedar bersuara ataupun bergerak. Malam ini saat saya kegiatan menidurkan anak adalah yang paling berat dari semua malam saat jauh dari suami. Saya lelah dari pagi dan puncaknya tadi malam. Saya bertanya dalam diri “Kok gini banget capeknya ya Allah. “ “Bolehkah saya menjauh dahulu barang sebentar saja dan lepas dari ini semua?” “Saya harus bagaimana ?” 

Cercaan pertanyaan itu terus menghantui saya hingga menidurkan anakpun tak terlalu diperdulikan. Padahal ini salah satu kegiatan favorit saya. Yang biasanya saya ajak ngobrol anak saya sekaligus menyusukan adeknya. Terlalu banyak hal yang ada d kepala yang sampai saya tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi tadi malam saya hanya diam biarpun anak saya mengajak cerita. Pikiran saya melayang ntah kemana sampe saya sadar bahwa dua anak sudah tertidur pulas. Saya merasa bersalah. Saya merasa tidak berguna. Saya merasa terlampau egois yang hanya memikirkan perasaan saya saja, ‘Tidak bolehkah saya merasa capek?” Begitu terus sambil saya sesenggukan. Dalam gelapnya malam saya lepaskan semua yang udah berat dari kemaren pagi.

Tolong jangan cerca saya dengan jawaban kurang bersyukur lah.,kurang beribadah, atau ya beginilah ibu mana ada berhentinya dan jangan egois. Plis jangan berkata seperti itu bagi ibu yang sedang kelelahan akut. Kamu tidak tau kadang kata kata bisa jadi sangat powerful jika digunakan tepat. Atau bisa saja menghancurkan percaya diri seseorang.  

Tapi Jika kamu seorang ibu pasti tau bagaimana dilemanya kalo badan dan hati yang lelah. Dibawa kemana atau gerak apapun gak ada guna. Saya merasa uninspired, not worthy, selfiss, and extremely exhausted. Cuman pengen berdiam diri dan keluar sebentar dari rutinitas ini. Hanya ingin  ‘pause’ biarpun hanya beberapa jam. Kesehatan psikis saya lagi diambang batas merah. Yang saya lakukan jadinya saya diam sambil sesenggukan di gelapnya kamar sambil tak henti hentinya minta kekuatan dari Allah. Nggak berani nelpon pak suami karena sudah tengah malam dan pasti disana dia juga kelelahan. Kadang inilah paling berat menjadi kehidupan Long Distance Marriage. Akhirnya dengan menangis mulai lega sedikit.

Pernahkah ibu merasa capek yang teramat sangat? Apa kiatnya? Pengen tahu bagaimana kiatnya biar merasa bersemagat lagi dan dapat energi baru. Saya pengen merangkul para ibu untuk mendukung ibu yang lainnya. Karena sejatinya kata kata penyemangat adalah yang paling dibutuhkan semua ibu diluar sana tanpa terkecuali. Stop dahulu mom-shaming atau mom-competing. Kita semua satu dan mempunyai beban yang tak bisa digantikan atau dibandingkan oleh siapapun.