ROKOK HARUS MAHAL

Saya memiliki penyakit asma sejak usia tiga tahun. Berdasarkan diagnosis dokter, faktor genetik yang menjadi penyebab dominan karena ayah saya menderita sakit yang sama. Hal ini membuat ayah  bersikap protektif. Salah sataunya dengan menjauhkan saya dari orang yang sedang merokok, meskipun itu adalah kakek saya sendiri. Jika kakek sedang merokok, ayah langsung menarik saya keluar rumah.

Saat  kecil saya merasa hal ini menjengkelkan. Mengapa sih, harus menjauhi perokok?

Setelah saya dewasa saya melakukan hal yang sama. Jika berdekatan dengan orang yang sedang merokok, saya berusaha langsung menjauh. Bau asap rokok membuat saya pusing, bahkan hingga mual. Jika kondisi saya tidak sehat, saya akan bersin-bersin mencium tembakau dan nikotin yang dibakar itu. Sikap protektif juga saya tunjukkan ke anak. Saya tidak ingin putri saya  menghirup asap rokok.

Saya yakin deh pasti semua orang sudah tahu bahwa rokok tidak baik untuk kesehatan. Para perokok aktifpun bisa langsung melihat dampak buruk rokok dari kemasan rokok yang mereka beli. Berbagai penelitian juga telah membuktikan bahwa merokok dapat menyebabkan infeksi paru-paru, kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker paru-paru, serangan jantung, stroke, demensia, disfungsi ereksi (impoten), dan sebagainya. 

Bahaya merokok bagi kesehatan ini tidak hanya berlaku bagi perokok saja lho. Orang-orang yang ada di sekitar perokok atau yang biasa disebut perokok pasif juga berisiko tinggi terkena efek rokok tersebut, meskipun mereka sendiri tidak merokok.

Dari sisi kesehatan, orang seperti saya yang memiliki penyakit, juga bayi, balita, ibu hamil, kemudian ibu menyusui menjadi kelompok yang rentan dari bahaya rokok. Namun, menurut survei BPS, kelompok rentan yang lebih luas lagi adalah mereka kelompok miskin.


Sudah Miskin, Kok Boros Beli Rokok?


Dalam benak kita, kalau kita tidak punya uang pasti akan mengurangi pengeluaran pada pos yang kurang penting. Kita akan berhemat dengan mendahulukan kebutuhan primer. Tetapi hal ini tidak terjadi dengan kelompok miskin. Rokok menjadi kebutuhan kedua setelah mereka membeli beras.

Menurut Dr.Arum Atmawikarta, MPH, Manager Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs Bappenas dalam Talkshow Ruang Publik KBR Serial Rokok Harus Mahal “Jauhkan kelompok Rentan dari Rokok” , data BPS tahun 2004-2018 menyebutkan bahwa pengeluaran kelompok miskin untuk membeli beras sekitar 22%, dan membeli rokok sekitar 12-17%. Setelah itu baru pendidikan, sekitar 3%, dan kemudian untuk kesehatan sekitar 3%. Jadi ini artinya ibu-ibu atau keluarga kelompok miskin membelanjakan lebih banyak rokok daripada memberikan makanan yang lebih baik kepada bayi-bayi atau balita, maupun untuk pendidikan anak-anak mereka.

Jadi gimana nih? Mereka lebih memilih mengeluarkan uang untuk sesuatu yang membahayakan kesehatan mereka, daripada membeli pangan untuk kesehatan dan tumbuh kembang anak-anaknya. Astaga!

Kok bisa sih hal ini terjadi?


Konsumsi rokok pada kelompok miskin dan anak-anak saat ini begitu tinggi. Tingginya proporsi konsumsi tembakau dapat mengindikasikan peningkatan jumlah perokok di Indonesia. Ironinya, kebanyakan perokok usia ≥15 tahun tercatat mulai merokok pada usia anak dan remaja. Tren kenaikan signifikan terlihat pada mereka yang mulai merokok pada usia anak dengan rentang 5-14 tahun. Tahun 1995, sebanyak 9,6 persen penduduk usia 5-14 tahun mulai mencoba merokok. Pada 2001, jumlah ini naik jadi 9,9 persen, kemudian terus melonjak hingga 19,2 persen pada 2010. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan, mengingat anak usia 5-14 tahun seharusnya masih di bawah pengawasan orangtua. (sumber : Buku Fakta Tembakau)

ROKOK HARUS MAHAL
Info Grafis diambil dari tirto.id

Menjauhkan Kelompok Rentan dari Rokok


Sebenarnya, secara konstitusi peringatan tentang bahaya merokok sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, yang kemudian aturan pelaksanaannya dikeluarkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2013 tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau.

Tetapi mengapa jumlah perokok semakin tinggi? Ada beberapa alasan untuk menjelaskan fenomena ini.

1. Rokok mudah didapatkan


Siapapun bisa membeli rokok. Tidak perlu pergi jauh, banyak toko kelontong dan mini marekt menjualnya. 

2. Rokok sangat murah


Di Indonesia harga rokok sangat murah. Rokok dijual tidak hanya dalam bentuk kemasan tetapi juga eceran batangan. Anak-anak sekolah bisa dengan mudah membelinya, jika harganya hanya 600-1000 rupiah per batang.

3. Iklan rokok yang provokatif


Iklan rokok di televisi dan radio memang telah dibatasi penayangannya di atas jam 21.00. Iklan luar ruangan seperti baliho, juga dilarang menampilkan bentuk rokok secara eksplisit. Meski demikian, ternyata iklan rokok sering menampilkan pesan-pesan yang kontradiktif dengan bahaya di dalamnya. Seperti menunjukkan keperkasaan, kebersamaan, kekuataan yang ditampilkan melalui figur bintang iklannya.

Anak-anak mungkin saja berasumsi bahwa "merokok itu keren" hanya dengan melihat iklan rokok tersebut. Bukankah hal ini sungguh ironi?


Rokok Harus Mahal


Tidak bisa dipungkiri bahwa pemerintah memiliki andil yang besar dalam melakukan pembatasan rokok dan pembatasan jumlah perokok. Wacana bahwa harga rokok akan dinaikan, sepertinya juga tidak diberlakukan secara maksimal. Pemerintah tidak yakin ketika mereka menaikan tarif cukai untuk menaikan harga rokok. Juga tidak yakin ketika melarang iklan rokok di media massa.

Pengendalian rokok melalui mekanisme pengendalian harga sebenarnya telah berhasil di beberapa negara. Jika harga rokok itu dinaikan 10% maka akan menekan jumlah perokok sekitar 16% ,terutama pada penduduk miskin, jumlah konsumsi rokok mereka akan turun. Bukan hanya pada kelompok miskin, tetapi juga kelompok kaya. Namun, jumlah penurunan tetinggi terjadi pada kelompok miskin itu tadi. Jadi, memang sudah seharusnya pemerintah menaikan harga rokok melalui peningkatan cukai yang setinggi-tingginya, sehingga rokok dijual dengan harga yang mahal.


ROKOK HARUS MAHAL

Jika nantinya pemerintah berhasil membuat rokok menjadi mahal, PR selanjutnya adalah mengurangi akses rokok. Penjualan rokok seharusnya tidak sebebas sekarang ini. Jika menggunakan filosofi cukai pengendalian, konsumsi rokok atau produksi rokok seharusnya disamakan dengan alkohol. Penjualan alkohol dibatasi, seharusnya penjualan rokok pun juga dibatasi. 

Pemerintah juga harus segera sadar bahwa pertumbuhan ekonomi itu tidak boleh diserahkan kepada industri rokok. Kita harus yakin, bahwa mengendalikan konsumsi rokok membuat masyarakat sehat. Masyarakat yang sehat tentu akan lebih produktif dalam bekerja.

Jauhkan Rokok dari Keluarga


Bukan hanya pemerintah yang berperan dalam pengendalian konsumsi rokok, tetapi hal ini bisa kita lakukan bersama. Caranya? Cegah keluarga dari mengkonsumsi rokok.
Biasanya kepala keluarga memiliki peran besar di sini. Jika ayahnya merokok, akan mudah bagi sang anak untuk mencontoh mereka.

Masih ingat nggak, kisah Hafizh, bayi berusia 1 bulan yang meninggal akibat paparan rokok saat acara aqiqahnya? Saya tidak bisa membayangkan betapa pilu hati sang ibu, melihat anak yang dicintainya harus pergi selamanya. Baca berita selengkapnya di sini.

Foto diambil dari theasianparent.com

Nah, sekarang jika ingin tetap merokok, please dong jangan di dalam rumah. Karena asap rokok akan mengganggu teruatama pada golongan rentan. Dampaknya  kepada bayi, anak-anak dan ibu-ibu yang sedang hamil sangat besar. Hal ini sudah dibuktikan bahwa keluarga yang merokok, tingkat kematian bayi lebih tinggi dibandingkan dengan  keluarga yang tidak merokok. Jadi, ayolah para ayah (juga mungkin ibu) berhentilah merokok agar tidak di contoh anak-anakmu!



Jika tidak merokok, bukankah akan lebih berhemat juga? Kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk kebutuhan yang tidak penting. Juga, mengantisipasi pengobatan penyakit yang ditimbulkan dari merokok. Badan lebih sehat, tabungan lebih banyak!


Semoga upaya pemerintah untuk melakukan pengendalian konsumsi rokok semakin terlihat jelas. Naikkan harga rokok hingga 70ribu. Dan rokok harus mahal!

ROKOK HARUS MAHAL


Let's be friends!

Instagram | Facebook | Twitter

See you on the next blogpost.

Thank you,