Oleh : Selvia Vurwatie Novia

        Kebanyakan orang menggangap bahwa dalam islam tidak terdapat ilmu, pandangan ini khususnya di terapkan di daerah barat. Anggapan tersebut secara tidak langsung dan tidak disadari menciptakan pandangan tersendiri bagi masyarakat dunia. Namun jika di kaji kembali pandangan seperti ini sama sekali kontradiktif dengan faham sekular dan material. Dalam islam telah lama ada wujud sains berdasarkan landasan kaidah dan metodelogi yang di setujui oleh islam. Begitu juga ketika kita mengungkapkan sejarah kelahiran sains, sains sama-sama tumbuh berbanding dengan agama atau budaya dalam menentukan kemajuan masyarakat dunia.
        Bagi pandangan islam alam adalah menjadi sebagian daripada asas ilmu pengetahuan termasuk sains. Alam adalah ayat Allah. Dalam islam Allah telah menciptakan manusia sebagai mahluk yang peling mulia diantara mahluk-mahluk lain, hal itu dikarenakan mausia dianugrahi akal yang dapat berfikir. Cosmos atau alam  yang dibicarakan oleh sains merupakan jalan kedua untuk manusia mengenal kekuaan allah dan memberika fakta iliah yang jelas, untuk dikaji dan diselidiki oleh akal.
        Sains menurut islam tidak jauh dari konsep sains yang kita yakini selama ini. hanya saja sains dalam islam selalu didasarkan atas asas-asas nilai, konsep, dan prinsif-prinsif yang ada, yaitu Tawhid, khilafah, ibadah, halal, haram, adil, dan dzalim, yang merupanan asas yang penting dalam sains dan teknologi. Prinsif tersebut tidak keluar dari ruang lingkup wahyu yang ditanzilkan. Di sampiang itu, akal yang berasaskan pada epistimologi keilmuan juga menjadi pendukung pembentuk sains.
Kajian sains di dunia islam:
1. Sains filsafah dan intelektual yang dapat dipelajari oleh manusia dengan mengunakan pembuktian dan kecerdikan yang dimiliki sejak lahir.
2. Sains yang disampaikan (transmitted). Sains ini hanya dipelajari dengan cara pemyampaian, yang kalau dilihat akhirnya akan sampai pada penemuan sains tersebut.
        Tanpa kita sadari terdapat banyak pelajaran tentang sains pada Al-Qur’an, salah satunya ialah emriologi. Pada tahun 1982, Keith Moore, seorang profesor di University of Toronto, menulis sebuah buku berjudul : "The Developing Human, edisi ke3". Di dalamnya Moore menceritakan proses kelahiran dengan topik pertumbuhan embrio di dalam Al-Quran. Selanjutnya ia menulis buku kedua yang berjudul "Human Development as described in the Quran and Sunnah" yang banyak di kutip oleh ahli-ahli Sunni. Mereka ini merujuk kepada ayat Al-Qur’an berikut :
"Kemudian Kami jadikan dia air mani (yang disimpan) di dalam tempat yang kukuh. Kemudian mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan sepotong daging, lalu sepotong daging itu Kami jadikan tulang, lalu tulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian dia Kami ciptakan makhluk yang lain. Maka Maha suci Allah yang sebaik-baik menciptakan."
        Dalam zaman sains yang sudah maju hari ini, ada unsur saintifik jelas yang terdapat di dalam Al-Quran dan Hadis. Dalam kajian singkat mengenai "ilmu Sains" pernyataan-pernyataan yang selama di percaya jelas telah tertolak dalam Islam. Al-Qur’an sendiri menunjukan sumber keilahiannya tidak dijumpai di dalamnya satu perkara yang tidak benar, Al-Qur’an sebagai penyempurna, dan hadir sebagai penyeimbang bagi Rohani dan Jasmani yang hadir di dalam Islam.
Refrensi :
Khalid, Esa. (2001). Konsep Tamadun Islam. Johor Malaysia : Universiti Teknologi Malaysia.