Pada tanggal 28 Juli 2018 lalu, saya mengikuti kegiatan Jelajah Kampung Wisata Warungboto yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Jogjakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan berbagai potensi wisata yang dimiliki oleh kampung Warungboto.

Id Card peserta
Jogja memang sangat kaya dengan objek wisata, baik yang berupa bentang alam maupun peninggalan sejarah dan budayanya. Yang tidak bisa dipungkiri, hal-hal tersebut merupakan kelebihan dari kota Jogja. Sehingga banyak kampung di wilayah Jogja yang mulai berbenah dan menggali potensi wisata yang dimilikinya. Tidak terkecuali kampung Warungboto yang merupakan salah satu kelurahan di kecamatan Umbul Harjo, yang sejak tanggal 21 April lalu memperoleh akreditasi sebagai kampung wisata.

Kegiatan Jelajah Kampung Wisata Warungboto ini dikemas dalam kegiatan jalan sehat, yang dimulai pukul 08.00 sampai 12.00 wib dan diikuti para pelaku wisata, media, serta masyarakat umum.

Gembira Loka Zoo, Titik Awal dan Titik Akhir Kegiatan
Titik awal kunjungan sekaligus sebagai titik kumpul adalah di Kebun Binatang Gembira loka. Di sini para peserta memperoleh penjelasan tentang sejarah pembangunan Gembira Loka. Ide awal pendirian Gembira Loka berasal dari Sri Sultan Hamengkubuwono  VIII yang menginginkan sebuah taman hiburan yang dinamakan Kebon Rojo.

Suasana daftar ulang peserta

Peserta menyimak paparan
Dalam pemaparan sejarah tersebut, para peserta juga ditunjukan lokasi situs batu Gajah Wong yang dulunya menjadi tempat abdi dalem memandikan gajah peliharaan Sultan Hamengkubuwono I. 

Situs petilasan Gajah wong (doc.pri)
Para peserta juga diajak mengunjungi wahana baru di Gembira Loka yang diberi nama petting zoo. Di wahana ini pengunjung dapat berinteraksi dan memberi makan hewan-hewan yang ada dengan membeli paket makanan dari petugas penjaga berupa kangkung dan wortel. Hewan yang ada meliputi kuda poni, keledai, rusa, maupun kambing.

Memberi makan satwa di wahana petting zoo
Plant Seller dan Kaos Mbelinger
Selesai dari wahana ini, kami melanjutkan perjalanan dan keluar dari area gembira loka menyusuri sepanjang jalan Kebun raya, yang di kanan dan kirinya banyak terdapat penjual tanaman (plant seller). Di tempat ini, kita bisa membeli aneka tanaman hias, sekaligus bisa berkonsultasi tentang cara tanam dan perawatannya.

Plant seller
Tidak jauh dari lokasi Gembiraloka, terdapat juga toko yang menyediakan cindera mata khas Jogja berupa kaos yang di belakangnya terdapat gambar keris dan tulisan petuah bijak dalam bahasa Jawa. Toko souvenir ini bernama Mbelinger Jogja yang disingkat Mbejo. Selain kaos, di sini dijual juga aneka batik, blangkon, dan merchandise lain khas Jogja seperti gantungan kunci maupun hiasan-hiasan lainnya.

Suasana di Mbejo
Di tempat ini juga terdapat coffee shop kecil, tempat kita beristirahat setelah lelah berbelanja. Payanan di toko ini cukup ramah dan komunikatif dengan harga yabg cukup terjangkau.

Pusat Kerajinan Kulit
Di Warungboto terdapat juga sentra industri kerajinan kulit, tepatnya di Jl. Rejowinangun. Salah satu yang dikunjungi adalah milik Bapak Nur Muh Asmuni.
Di sini kita dapat melihat aneka tas, dompet, sepatu, ikat pinggang maupun jaket yang dijual dengan kualitas bagus dan terjangkau. Kita dapat juga melihat proses pembuatannya di workshop yang ada di samping rumah.

Workshop Kerajinan kulit milik pak Nur  

Aneka sepatu di store milik pak Nur
Situs Nogobondo dan Sentra Industri Tempe
Selepas dari store kerajinan kulit milik Bapak Nur Muh. Asmuni perjalanan dilanjutkan menuju ke sebuah situs bernama Nogobondo. Situs ini merupakan bekas pintu masuk ke tuk umbul (situs warung boto) yang berbentuk sebuah naga dan dipisahkan oleh sungai Gajah Wong. Yang tersisa dari situs ini adalah kepala naga yang konon dulunya merupakan pipa tempat masuknya air dari sungai gajah wong ke sebuah kolam di pesanggrahan raja.

Situs Nogobondo
Masih berada di sekitar situs Nogobondo, kita akan menjumpai sebuah usaha skala rumah tangga, yakni industri pembuatan tempe kedelai. Di sini kita bisa melihat proses pembuatan tempe mulai dari perebusan kedelai, perendaman dan penghilangan kulit, pemberian ragi, sampai proses pembungkusan. Sewaktu berkunjung ke sini, kami juga disuguhi aneka olahan tempe berupa mendoan dan tempe goreng untuk kami nikmati.

Industri tempe

Tempe jadi

Olahan tempe
Menuju Situs Warung Boto
Selepas dari situs Nogobondo dan tempat pembuatan tempe, perjalanan dilanjutkan menyusuri Jl. Ki Penjawi ke Jalan Umbul Tirto. Di pintu masuk Jalan Umbul Tirto kami disambut oleh bergodo Wirokerto Broto menuju ke situs Warungboto. Namun sebelumnya, terlebih dahulu kami transit di Omah Wisata yang dikelola masyarakat setempat untuk menikmati hidangan makan siang khas kampung Warungboto berupa nasi dan urap sayur dengan lauk aneka baceman, serta minuman stup jambu dan stup nanas.

Sambutan selamat datang dari bergodo wirokerto broto
Bergodo wirokerto broto
Sambil menikmati hidangan,   kami disuguhi dengan hiburan berupa cokekan dan gamelan. Di sini dipamerkan juga aneka produk yang dihasilkan masyarakat setempat berupa cemilan keripik singkong dan bakso goreng, serta produk kerajinan berupa anyaman rotan.

Para peserta jelajah wisata

Hiburan gamelan
Setelah beristirahat sejenak, perjalanan kami lanjutkan menuju ke situs Warungboto, yang merupakan bangunan bekas pesanggrahan yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono II.

Menuju situs warungboto
Cantiknya situs warung boto

Bangunan utama situs warung boto
Di sini kami dihibur dengan sajian sendratari merti tuk umbul yang biasanya digelar jelang ramadhan. Yang menceritakan tentang pensucian diri melawan nafsu angkara muka sebelum kita memasuki bulan puasa.

Sendra tari Merti Tuk Umbul

Naga, simbol nafsu angkara murka
Sendratari Merti Tuk Umbul ini sekaligus menjadi penutup jelajah kampung wisata Warungboto, dan peserta kembali lagi melanjutkan perjalanan ke Gembiraloka untuk kemudian pulang ke rumah masing-masing.

Bagi saya, kegiatan ini cukup menarik dan membuat kita mengenal dan lebih paham tentang tempat-tempat yang dikunjungi. Para peserta pun terlihat cukup antusias.

Hanya satu hal yang perlu digarisbawahi adalah pengaturan waktunya. Menjadikan situs Warungboto sebagai tempat yang paling akhir dikunjungi padahal merupakan situs yang sangat menarik terlebih terdapat gelaran sendratari Merti Tuk Umbul mungkin perlu dievaluasi. 

Suasana siang yang cukup terik dan berdebu membuat pengunjung kurang bisa menikmati pertunjukan dan kurang bisa mengeksplor situs. Semoga ke depan lebih bagus lagi, dan semakin maju wisata di Jogjakarta.

Salam...