Episode 3
FINALLY…..
by: Riya ABD
            Faza dan ibu-nya tiba di rumah setelah berlibur satu bulan di Madura. Ntah apa yang terjadi, hari itu Faza bertingkah tidak seperti biasa. Ia seperti penderita anoreksia. Ia terdiam lama dan berpikir tapi tak melakukan apapun. Dan yang lebih aneh Ibunya bertingkah biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa.
            “Fazaaa…. Kamarmu di atas sayang.” Kata ibunya sambil tersenyum.
            “iya maa…” jawabnya datar.
            Faza naik ke atas dan menemukan dua pintu kamar. Ia membuka pintu kamar yang pertama dan melihat ke dalamnya. Ia melihat fotonya di dinding. Mungkin itu kamarnya,. Begitu pikirnya.  Ia masuk dan meletakkan tasnya di atas Kasur. Ia melihat ke sekeliling kamarnya. Ia tersenyum.
            “benarkah aku yang melakukan semua ini?” tanyanya.
            Ia melihat ke meja riasnya. Ia melihat sebuah foto terpajang di sampingnya.  Ia berpikir panjang dalam suasana yang membingungkan. Ia memandangi foto itu lagi dan merasa ada yang janggal. Ia merasa ada yang aneh. Sangat aneh sampai tidak bisa di jelaskan. Ia mengalihkan pandangannya ke meja belajarnya ia pun melihat foto dirinya. Tapi dia tidak sendiri di foto itu. Tapi bersama foto orang yang ada di samping cermin tadi.
            Siapa orang ini? Kenapa  fotonya banyak di dalam kamarku?” tanyanya dalam hati.
            Dalam sekejap ada yang terasa sakit di kepalanya bagian kiri. Pandangannya mulai kabur dan ia merasa melayang di udara. Dan akhirnya ia pun terjatuh. Pingsan.
            “Fazaaa…. Fazaaaa…” panggil ibunya di luar kamarnya. “ sayang ayo turun kita makan malam.” Lanjutnya “Fazaa… Faza.. kenapa kau tidak menjawab mama?” pintu kamar terbuka. “Fazaaaa…” tariak mamanya setelah melihat faza tergeletak di lantai.
            Ia segera membimbing Faza keatas kasurnya. Air matanya menetes dan tiada henti bibirnya mengucap doa. Setelah ia menyelimuti Faza, ia meraih Al-Quran yang ada di atas meja samping tempat tidur Faza. Ia segera membaca surat Al-Isro’ sebanyak tiga kali. Faza bernafas dengan normal tapi ia belum sadar. Setelah selesai membaca Alquran mama Faza meninggalkan Faza dan menutup pintu kamarnya. Ia trun dan makan sendiri di meja makan tanpa ada siapapun yang menemaninya.
            “mas, andai kau masih hidup. Pasti kau akan menemaniku makan disini. Dimana kau sekarang? Apa yang telah terjadi padamu. Lihat anak kita. Aku sedih melihatnya. apa yang harus aku lakukan? Kenapa semua terjadi? Kenapa semua seperti ini?” tangis mama Faza sambil memasukkan sesendok cap cay kemulutnya. Padahal ia masak makanan kesukan Faza malam ini.


@@@@@@@@@@

            Pagi-pagi sekali Faza di antar kekampusnya oleh mamanya. Ia tak banyak bicara ia hanya melihat  selembar kertas jadwal di tangannya. Ia keluar dari mobilnya dan mentap gedung-gedung yang menjulang lima lantai di depannya. Ia tersenyum seakan ia melihat bintang yang jatuh dan tepat di depannya.
            “maa.. Faza berangkat yaa.. assalamu ‘alaikum” pamitnya.
            “ya sayang hati-hati yaa, kalau ada apa-apa kamu telpon mama yaa.. wa’alaikumussalam.” Jawab mamanya yang masih ada di dalam mobil.
            Ia melangkah gontai dan tenang. Ia menuju gedung A kelas A9 di lantai tiga. Setelah ia sampai di kelas ia duduk tanpa menyapa teman-teman yang lain. Sedangkan yang lain asik bercanda dan saling mengatakan kalau mereka saling merinduka dan bercerita tentang liburan mereka selama satu bulan.
            “Eh itu Faza…” kata salah satu dari mereka.
            “Hai Fazaaa…” sapa mereka.
            Faza menoleh dan tersenyum “hai… apa kabar?” jawabnya ramah.
            “labih baik… ayo sini gabung" jawab salah satu dari mereka.
            “enggak deh makasih” jawabnya.
            “wah dia nggak pernah berubah” ujar mereka.
            Faza terkejut dengan jawaban mereka “ kamu bilang apa tadi?” Tanya Faza.
            “Eeee… enggak kok. Nggak ada” jawab temanya.
            Semua mahasiswa masuk kelas dan Dosen pun datang. mata kuliah pun segera di mulai dan di awali dengan doa.

@@@@@@@@
           
            Faza menutup buku dan mamatikan notebooknya setelah menyelesaikan tugasnya. Ia segera meraih cemilannya yang ada di sampingnya. Sambil ngemil ia mengotak-atik HP-nya. Ia menemukan sebuah pesan dan membukanya.
            “hai Fazaa…
            Apa kabar? Aku kangeen banget sama kamu? Bisa nggak kita ketemu? Kita udah satu bulan nggak ketemu. Aku mau minta maaf. Aku sudah menjalani hukuman yang kamu berikan sama aku. Apa kau masih marah? Faza aku mohon jangan biarkan aku meratap sendirian. Aku butuh sahabatku. Aku ingin kita seperti dulu lagi. Apa kau masih marah sama aku? Please bales.
Brian”

            Faza segera membalas pesan itu.
            “temui aku sekarang di depan rumah”
            Faza menunggu di depan rumahnya. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri dan merasa asing dengan semuanya bahkan dengan dirinya sendiri. Hatinya dag dig dug. Ia bingung harus mengatakan apa pada orang itu. Ia tidak tahu apa yang telah terjdi dan mengapa ia harus menerima hidup yang seperti ini.
            “hai Fazaa” sapa seseorang di sampingnya.
            “hai… kamu yang namanya Brian?” Tanya Faza.
            “hmm… ya aku Brian. Sahabat kamu. Kamu lupa?” Jawab Brian sambil tersenyum ringan “baru satu bulan nggak ketemu eh udah lupa” lanjutnya dengan alis mengangkat sebelah.
            “sahabat?” Tanya Faza dengan nada bingung.
            “oh ya ampuuun.. Fazaaa… Fazaa…” kata Brian masih tersenyum. “aku kangen banget sama kamu” Ujar Brian sambil memeluk Faza.
            “maaf… apa kita sedekat ini sampai kau beerani memelukku?” Tanya Faza hampir marah.
“Faza please… ini nggak lucu. Kamu… kamu kenapa?” Tanya Brian sambil memegang pundak Faza. Matanya lekat memandangi wajah Faza.
            “maaf Brian, aku tidak ingat kalau aku pernah punya sahabat kamu” ujar Faza lagi.
            “Fazaa.. ada apa ini? Ini nggak lucu Faza” kata Brian lagi.
            “maafkan aku. Tapi…”
            “Faza, ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau berubah seratus delapan puluh derajat dari yang aku kenal. Kamu bukan Faza. kamu Siapa?” Tanya Brian lagi. Tangannya masih erat memegang pundak Faza.
            “Brian, lepaskan aku.” Jawab Faza sambil berusaha melepaskan pundaknya dari tangan Brian.
            “ayo kita masuk, aku mau ketemu tante” kata Brian sambil melepaskan tangannya dari pundak Faza, hatinya berkecamuk penuh Tanya. Faza mengagguk.
            Mereka pun masuk dan duduk di ruang tamu. Faza memanggil mamanya yang ada di kamarnya. Mamanya keluar dengan membawa beberapa pakaian yang masih belum di lipat.
            “eh nak Brian, apa kabar?” Tanya mama Faza sambil tersenyum. “sayang ayo bikin minuman buat Brian, bawa cemilan juga yaaa” lanjut mamanya dan duduk di sova. Faza pun pergi ke dapur.
            “tante, tolong jelasin kenapa Faza seperti ini? Dia… dia bertingkah tidak sperti biasanya. Dia sangat aneh” Brian membuka pembicaraan.
            “Brian, tolong tenang. Brian, sebenarnya waktu kami pergi liburan… kami mengalami kecelakaan. Kedaan Faza sangat parah waktu itu. Sedangkan tante hanya mengalami luka kecil di bagian punggung. Dokter bilang Faza harus di operasi kalau tidak nyawanya akan terancam. Faza akan sembuh tapi dengan kehilangan memorinya. Karena yang di operasi adalah kepalanya bagian kiri yang megalami luka parah, kalau tidak di operasi akan beku dan akan menghambat peredaran darah yang akan menyebabkan kematian. Bahkan Faza membutuhkan donor darah. Karena darah Faza Cuma sama dengan tante jadi tante yang mendonorkan darah untuknya.” Cerita mama Faza dengan air mata yang berderai-derai.
            “maafin Brian tante… Brian Cuma…”
            “Brian… tolong bersikaplah seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Biarkan semua mengalir seperti air. Kita jelaskan semuanya sama Faza secara pelan-pelan.”
            “baik tante”
            Faza datang dengan tiga gelas jus melon di tangannya dan sepiring roti bakar. Ia tersenyum dan meletakkannya di atas meja. Kemudian duduk.
            “sayang ini Brian sahabat kamu. Kalian sudah bersahabat sejak lama. Maaaf ya mama lupa yang mau cerita sama Faza.”
            “Oooooh…. Maaf ya Brian aku nggak inget” jawab Faza.
            “ayo diminum.. jus buatan Faza nih..” kata mama Faza.
            “tante, Brian Boleh nggak ajak Faza jala-jalan?” Tanya Brian.
            “oh silahkan… tapi Tanya dulu sama Faza dia mau apa nggak?” mama melirik Faza. Faza ternyum dan mengangguk.
           

@@@@@@@



            “Faza, ini tempat kita biasa nongkrong” kata Brian membuka percakapan.
            “Oh ya? Wah di sini udaranya sangat sejuk” kata Faza sambil melihat di sekelilingnya.
            “kita biasa ngerjain tugas bareng disini” kata Brian lagi.
            “wah… pasti asik”
            “biasanya kalau kamu ngerjain tugas bareng aku, kamu selalu bawa coklat buat cemilan. Tapi kamu nggak gemuk-gemuk. Kamu pernah bilang sama aku kalau kamu pengen gemuk. Lucu juga sih, padahal banyak cewek yang mendamba langsing, kamu malah pengen gemuk. Aneh”
            “Brian maafin aku yaa… aku membiarkanmu mengenang persahabatan kita sendirian” ujar Faza.
            “itu bukan salah kamu Zaaa…”
            Brian bercerita panjang lebar tentang persahabatan mereka. Mereka berpindah-pindah tempat. Mengunjungi tempat yang biasa mereka kunjungi. Berhari-hari mereka selalu bersama. Banyak waktu yang mereka habiskan dengan sepenuh hati. Hanya berdua. Ya hanya berdua saja. Bahkan Brian mengajak Faza naik keatas atap untuk melihat bintang seperti kebiasaan mereka ketika masih SMP dan SMA. Ah betapa indah kenangan itu dalam ingatan Brian. Namun Faza hanya menjadi pendengar karena ia tidak ingat dengan semua yang Brian ceritakan. Saat ini bagi Faza, apa yang Brian ceritakan adalah sebuah dongeng atau sebuah novel yang Brian baca untuk menghibur Faza.
            “Brian, boleh aku ngomong sesuatu sama kamu?” ucap Faza setelah mengumpulkan keberaniannya.
            “iya” jawab Brian singkat.
            “Brian, aku minta maaf jika aku harus bicara seperti ini. Tapi kamu harus tahu. Setelah berhari-hari aku menghabiskan waktu bersama kamu, ada yang aneh di Antara kita. Aku merasa kita bukan sekedar sahabat. Aku merasa nyaman ada di deket kamu. Rasanya aku ingin lebih dari kamu. Tapi aku nggak mau, karena kamu bilang kita ini sahabat. Aku… perasaan ini benar-benar sulit aku jelaskan. Aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Perasaan ini tumbuh begitu saja seperti sudah ada sebelumnya. Dan aku…..” Brian langsung memeluk Faza setelah mendengar apa yang Faza katakan. Sampa-sampai Brian bisa merasakan detak jantung Faza yang begitu cepat.
            “Ini yang selalu ingin aku dengar dari kamu. Aku menunggu sekian tahun lamanya. Aku selalu menunggumu. Aku selalu ingin kau mengakui perasaanmu padaku. Kau membuatku kesulitan untuk mengetahui perasaan kamu yang sebenarnya. Faza… aku tahu kau mencintaiku. Aku tahu itu. Aku juga sangat mencintaimu. Lebih dari yang kau rasakan” ucap Brian yang masih memeluk Faza. Air matanya meleleh, begitupun dengan Faza.
            “Brian… apa kita pernah menyatakan perasaan sebelumnya?” Tanya Faza sambil melepas pelukan Brian.
            “suatu saat kalau ingatan kamu sudah kembali kamu akan tahu semuanya” jawab Brian “aku tidak bisa menjelaskan hal ini sama kamu. Karena yang tahu perasaan kamu Cuma kamu” lanjut Brian sambil menghapus air mata Faza.
            “so… kita sekarang…????”
            “ya… ini yang perlu kita bahas….” Brian memotong kalimat Faza “Faza, aku tidak tahu apakah aku harus senang karena kemungkinan besar status kita bukan sahabat lagi. atau aku harus sedih, karena dengan begini kemungkinan besar suatu saat nanti aku akan kehilanganmu sebagai sahabat. Aku takut kehilanganmu sebagai sahabat. Aku takut jika ingatanmu kembali kau akan menjauhiku atau menghilang dariku. Aku takut Faza. Sangat takut. Sampai aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padamu saat ini. Tapi aku juga tidak ingin menyakitimu, ini bukan salahmu. Aku serahkan semua ini padamu.” Kata Brian lagi dalam hati.
            “Brian, jadi kita udah jadian?” Tanya Faza lagi memastikan.
            “menurutmu?” Brian memutar pertanyaannya.
            Faza memeluk Brian. Hari itu mereka resmi jadian. Mereka menjalani hari-hari selanjutnya dengan penuh kebahagiaan. Sepasang sejoli itupun menikmati kisah cinta mereka dan bernaung dalam kepompong cintanya. Mereka yang dahaga terus mereguk anggur yang ditawarkan cinta. Mereka terlampau bahagia dan lupa hari esok. Mereka berandai-andai seakan akan hidup selamanya. Mereka banyak menghabiskan waktu berdua seakan besok mereka akan berpisah. Tak ada hari tanpa mereka jalani bersama. Mereka bagai sepasang kupu-kupu yang terbang di taman yang penuh bunga. Mereka bagai sepasang merpati yang terbang di jingga fajar. Mereka laksana bintang dan rembulan yang selalu bersanding di musim panas. Mereka adalah anak cucu adam yang mengemban tiga kata yang harus mereka pertanggung jawabkan suatu saat nanti. Ya suatu saaat nanti. Jika saatnya sudah tiba…


Bersambung…….