episode 1

HARI PERSAHABATAN
By: Riya ABD

            Sudah hampir sepuluh tahun persahabatan itu terpelihara, sejak hari sabtu tanggal 22 maret tahun 2004, sejak pertama kali teman berubah jadi sahabat. Mereka selalu memperingati tanggal itu dengan merayakannya, bersenang-senang di suatu tempat entah di pantai atau di kebun binatang seperti tahun lalu, menggunakan pakaian yang sama berwarna biru dan memberi benda berharga berwarna biru sebagai lambang persahabatan.
            Mereka memiliki definisi yang sama tentang persahabatan namun mereka melakukannya dengan cara yang berbeda. Kenapa harus berbeda? Banyak sekali perbedaan di antara keduanya namun perbedaan yang paling menonjol adalah perbedaan agama. Meskipun begitu mereka tetap menjadi sahabat.
            “persetan dengan Agama.” Ujar Faza suatu kali.
            Gadis itu tak peduli dengan pendapat dan aturan siapapun jika tidak sesuai dengan apa yang diyakininya.“karena semua itu tidak penting.” begitu menurutnya. Meski demikian ia rajin shalat berjamaah dimesjid.
“persahabatan lebih mulia dari manusia itu sendiri.” begitu kata Brian.
Laki-laki yang satu ini juga sama dengan Faza. Dia selalu malas membahas yang namanya perbedaan jika sedang bersama dengan Faza.“semua itu hanya menggangguku saja.” begitu pendapatnya ketika ditanya. Meski demikian dia juga tidak pernah Absen ke Gereja setiap hari minggu.
“Brian tunggu....” Faza mencegah Brian yang hampir masuk ke Gereja.
Brian sudah sangat hafal dengan suara yang memanggilnya.
“ada apa?” jawabnya sambil menoleh ke arah Faza “Astaga?!”
“kenapa?” tanya Faza yang melihat Brian sangat terkejut seperti sedang melihat hantu di siang bolong.
“selama sepuluh tahun aku menjadi sahabatmu, aku belum pernah melihatmu seperti ini” jawabnya masih terkejut.
“seperti apa?”
“se..seperti... zombi.”
“apa?” Faza naik pitam. Segera ia melepas sepatu dari kaki kirinya. Brian yang menyadari hal itu langsung berlari.
“hey kampret, berhentiiiii....” teriak Faza sambil mengejar Brian dengan sepatu di tangannya.
“Astaga gadis itu.” kata Brian sambil berlari. “ada apa lagi sih dengannya? Dia pasti sudah sinting.” Simpulnya. Lalu ia masuk ke toko bintang plastik dan bersembunyi di balik rumah mainan yang terbuat dari plastik.
“dimana dia?” tanya Faza dengan nafas tersengal-sengal “aku yakin, tadi dia masuk ke tempat ini.” ujarnya.
Faza masuk ketoko itu dan menelusuri setiap sudutnya. Sampai akhirnya ia benar-benar lelah, ia berdiri di depan rumah plastik itu sambil memasukkan kakinya kembali ke dalam sepatu yang masih di pegangnya.
“aku yakin dia...” suara Faza tercekat melihat punggung Brian di balik rumah plastik itu. “aku melihatmu.” Lanjutnya dengan suara lega.
“Hah?” Brian kembali terkejut “Faza, aku nggak bermaksud....” katanya sambil berdiri.
“sudahlah, aku mencarimu bukan untuk memukulmu.”
“lalu?”
Faza keluar dari toko itu diikuti oleh Brian dibelakangnya.
“apa ini?” tanya Faza sambil mengeluarkan buku Diary kecil dari saku jaketnya.
“kok dia bisa ada di kamu?” tanya Brian heran.
“kamu pembohong Brian, aku kira kita benar-benar sahabat yang saling jujur satu sama lain. Aku frustasi memikirkannya hingga kau anggap aku seperti zombi.”
“itu...”
“kita telah bersama selama sepuluh tahun kurang sebelas hari, semua orang tahu bahwa kita adalah sahabat, sangat ada kemungkinan baik kecil maupun besar bahwa aku juga menyukaimu sebagai seorang pria bukan seorang sahabat. Aku selalu berusaha membuang perasaanku jauh-jauh agar persahabatan kita tetap utuh. Tapi apa ini? apa?” Tangis Faza pecah, tangan kanannya memukul-mukul dada Brian.
“Iya, benar. aku mencintaimu sejak tujuh tahun yang lalu, awalnya ku kira itu hanyalah rasa kagum jadi aku membiarkannya. Tapi semakin lama rasa itu semakin berbeda....”
“cukup Brian! Meskipun kita saling mencintai kita tidak akan pernah bersatu.”
“mengapa?”
“kita beda Agama?”
“kau bilang persetan dengan Agama?”
“kau bilang persahabatan lebih mulia dari manusia?”
“lalu, apa kau akan melupakan semuanya? Hah, Mengapa hal ini begitu mudah bagimu Faza? Bahkan aku hampir mati menekan perasaanku selama tujuh tahun lamanya. Bagaimana bisa kau lakukan ini?”
“aku nggak mau ketemu kamu lagi.” Faza meletakkan buku itu ditangan Brian dan melangkah pergi, meninggalkan Brian yang masih terpaku pada hatinya yang terluka.

#######

            Ada rasa menyesal di antara keduanya. Penyesalan yang seakan-akan telah mengakhiri segalanya. Penyesalan yang mungkin tak ada maaf baginya. Penyesalan yang ingin menghapus hari ini.
            “ya Allah, apa semuanya benar-benar akan berakhir? Inikah ending persahabatan yang kau biarkan selama ini? ya Allah, aku  tidak pernah berpikir bahwa kata maaf akan bertanggung jawab atas cinta yang benar-benar ada di antara kami. Tapi aku mohon kembalikan persahabatan kami.” Gumam Faza di dalam kamarnya.
            “ya tuhan, mengapa semua ini harus terjadi?” sesal Brian penuh kebencian pada dirinya sendiri. Ia menendang kaleng bir ke seberang jalan.
            Pada hari-hari selanjutnya mereka sudah tak terlihat bersama seperti hari-hari sebelumnya. Semua teman-teman dikampusnya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada mereka berdua.
            “ini sangat menyebalkan.” Ujar Robby, salah seorang teman sekelas Faza dan Brian.
            “Oh iya, gimana kalau kita bikin kejutan buat mereka? Bukannya besok hari persahabatan mereka? Kebetulan uang tabunganku cair kemarin.” Ron meluapkan idenya yang juga sudah tak tahan dengan perang dingin Faza dan Brian.
            “mantap tuh.” Jawab Robby.
            Pada malam harinya Robby dan Ron menyebar undangan keseluruh teman-temannya, termasuk Faza dan Brian. Pada jam sembilan pagi acara telah di mulai, mereka menempatkan acara itu di pantai pulau seribu. Acara yang lebih pantas disebut pesta dengan design warna biru tersebut berlagsung sangat meriah hingga mengundang para reporter. Sampai tiba saatnya Acara puncak.
            “perhatian.” Suara Ron berhasil menelan suara undangan dengan microfon“sebelumnya saya mohon maaf. Sebenarnya hari ini bukan ulang tahun saya. Acara ini di adakan dalam rangka memperingati hari persahabatan antara Faza dan Brian. Faza, Brian, tak peduli jika kalian membenci kami, kami melakukan hal ini karena kami tidak ingin persahabatan kalian hancur. Jangan sia-siakan waktu sepuluh tahun yang lalu. Kembalilah menjadi sahabat seperti sebelumnya. Persahabatan lebih mulia dari manusia itu sendiri. Persetan dengan perbedaan. Bukankah persahabatan itu lebih indah? Jika kalian berdua setuju silahkan kedepan, tunjukkan pada kami bahwa persahabatan kalian tidak hancur sia-sia hanya karena masalah kecil.” Suara Ron bertalu-talu.
            Semua undangan mencari-cari dimana Faza dan Brian. Mengapa mereka tak kunjung kedepan?
            “jadi persahabatan kalian benar-benar sudah berakhir?” tanya Robby lewat microfon.
            “TIDAAAAAKK......!!!!” teriak Faza dan Brian yang ternyata sedang duduk dimeja paling belakang. Faza di sudut kanan sedangkan Brian di sudut kiri. “HARI INI ADALAH HARI PERSAHABATAN KAMI.....!!!!” teriak mereka lagi secara bersamaan sambil berjalan ke depan.
            Sesampainya mereka didepan, dengan lantang mereka berkata “PERSAHABATAN KAMI TIDAK AKAN PERNAH BERAKHIR, BAGAIMANA PUN, DI MANA PUN, DAN APA PUN YANG TERJADI.” sumpah mereka pun terdengar kembali.
            “kalau begitu, mari kita bersulang demi sebuah persahabatan, cheers!!!” mereka bersulang dan saling mengucapkan selamat hari persahabatan.
            “Robby, Ron, thank’s for everything.” Ujar Brian dan Faza bersamaan.
            “you’re welcome.” Jawab Robby dan Ron kompak.
            “selamat hari persahabatan.” Ucap Faza dan Brian. Mereka saling memberikan sebuah gelang berwarna biru.
            Brian, berjanjilah bahwa hal ini tidak akan terjadi lagi” ujar Faza sambil tersenyum penuh harap. Ia hanya tekut kehilangan Brian sebagai sahabat.
            “aku janji” jawab Brian meyakinkan.
            Faza dan Brian yang menjadi pencetus hari tersebut mendapat penghargaaan dari teman-temanya. Pesta itu menyebar keseluruh tanah air hingga akhirnya pemerintah menetapkan bahwa tanggal 22 Maret adalah hari persahabatan, hari yang hanya mengenal kasih sayang dan tak kenal perbedaan, dengan lambang gelang berwarna biru. SELAMAT HARI PERSAHABATAN.


Bersambung…..