“Saya hanya jatuh cinta satu kali lalu melakukannya dengan sungguh-sungguh.”
Echa tak dapat berkata lagi setelah mendengar pernyataan tegas tantenya. Gadis yang beranjak dewasa itu pun tak ingin membuat suasana memburuk dengan mendebat  Ir.
Namun jauh di lubuk hati, ia ingin tante yang selama ini dihormati dan disayangi itu mau sedikit membuka diri.
Ir dalam pandangan Echa adalah seorang wanita tangguh dan mandiri. Sejak kecil hidup penuh perjuangan setelah orangtuanya berpisah dan menjalani hidup masing-masing tanpa mengajak Ir ikut serta. Hidup mandiri di kota jauh dari kampung halaman, Ir muda gigih memperjuangkan mimpinya.
Tak heran jika saat ini, Ir telah mampu hidup mapan dan memiliki karier yang cemerlang sehingga dengan tangan terbuka mau menerima Echa sebagai anggota keluarga.
Echa datang sebagai beban, namun Ir tidak menganggapnya begitu. Meski banyak hal harus dibagi, Ir dengan senang hati melakukannya. Pengalaman pahit dalam hidup tak serta merta menutup mata akan kesulitan orang lain. Justru hal itu yang membuatnya lebih peka terhadap penderitaan sesama.


Selain menampung Echa selama lebih sepuluh tahun ke belakang, Ir juga aktif dalam kegiatan sosial baik di tempat tinggal maupun di tempat kerja. Ia adalah orang pertama yang mengulurkan tangan kanan ketika yang lain mendapat musibah.
Hal itu pulalah yang mendekatkan Ir pada Jumanto. Laki-laki yang tak lain adalah rekan kerjanya di kantor. Mereka sama-sama berjiwa sosial tinggi. Kencan-kencan indah mereka kerap diwarnai dengan suka cita bersama anak-anak yang kurang beruntung, terkadang dengan tunawisma, atau dengan orang-orang gila yang terabaikan.
“Selamat malam.”
 Ir berlalu ke kamarnya. Dingin sikap yang ia tunjukkan akhir-akhir ini. Apalagi setelah peristiwa pilu yang merenggut sebagian besar kebahagiaannya.
Tiga bulan sudah  Ir merana karena takdir telah begitu kejam merenggut Jumanto dari sisinya. Membawa kekasih hati beserta masa depan yang mereka rangkai bersama ke dalam tanah. Bahkan rasanya hati Ir ikut terkubur bersama jasad kekasihnya.
Kini tak ada lagi senyum atau sikap ramah yang penyayang. Wanita itu bagai kehilangan arah dan tujuan. Bagi Echa, tante Ir layaknya orang yang sangat asing. Bukan wanita yang telah menjaganya selama ini.
“Gimana kabar Ir, Cha?”
“Masih sama, Kak,” jawab Echa datar ketika ia sedang membereskan meja yang telah ditinggalkan pelanggan.
“Besok kamu boleh libur. Temani Ir, saya takut dia terlalu larut dalam kesedihan.”
“Ah, percuma, Kak. Tante pergi pagi pulang malam. Lagipula hubungan kami tidak terlalu baik saat ini.”
Tanpa melanjutkan obrolan mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing. Echa sedikit kesal pada Ir, terakhir mereka bicara dua hari yang lalu sikapnya begitu dingin.
Wanita itu boleh saja berduka setelah kekasihnya mati dalam kecelakaan di perlintasan kereta. Namun ia masih hidup, Echa ingin sekali menyadarkan Ir akan hal itu. Melanjutkan hidup dan menyongsong harapan baru.
“Kamu belum tidur, Cha?”
“Saya baru pulang, Tan. Hari pembukaan cabang baru dan banyak yang harus dikerjakan.”
Ada jeda setelah itu karena Echa tahu, Ir tidak tertarik dengan pembicaraan tentang kafe.
“Bagaimana dengan sekolahmu, Cha?”
“Baik. Minggu depan ada ujian tengah semester, saya telah belajar banyak untuk itu.”
“Sebaiknya kamu jangan bekerja dulu, Cha.”
Echa membuka kulkas dan mengeluarkan sekotak susu UHT.
“Tante mau susu cokelat?”
“Boleh.”
Echa segera menuangkan susu ke dalam dua gelas kaca. Menaruhnya dalam panci di atas kompor induksi. Tak lama kemudian, mematikan kompor dan menaruh gelas itu di atas meja.
“Silakan, Tan.”
“Makasih, tante serius. Kamu berhenti kerja saja dulu, Cha.”
“Saya juga serius. Sudah saatnya Tante bangkit, tinggalkan masa lalu.”
“Echa! Saya tidak suka kamu mencampuri urusan pribadi saya!”
Ir melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Echa sendirian bersama dua gelas susu yang mulai mendingin seiring dengan hubungan kedua wanita itu.
Echa mengetuk pintu kamar utama, tiada jawaban. Namun dia yakin Ir belum tidur. Beberapa ketukan lagi tetap tak ada jawaban. Tapi belum saatnya menyerah.
“Saya tahu Tante belum tidur. Saya hanya ingin menunjukkan rasa peduli. Tolong jangan abaikan. Sayangilah dirimu sendiri, Tan.”
Sejenak Echa berhenti menunggu respon Ir, nihil.
“Bukalah hatimu, Tan. Beri Kak Irwan kesempatan.”
Ada suara langkah yang tertangkap oleh indera pendengaran Echa. Ia berharap suasana mulai mencair. Ada sedikit kelegaan yang dirasakan gadis yang berdiri di depan pintu yang kemudian terbuka itu.
“Urus urusanmu sendiri. Kamu sudah cukup menjadi beban buat saya. Jangan sok menggurui, saya lebih mengerti diri sendiri dibanding siapapun.”
Terpaan napas dari Ir terasa begitu panas di wajah Echa bahkan begitu panasnya hingga hatinya ikut terbakar. Ia bergeming. Masih menunggu keputusan dalam dirinya untuk mempercayai atau tidak apa yang baru saja didengar. Memilih untuk mengganggapnya nyata atau hayalan. Tiba-tiba tubuhnya merespon. Rasa panas itu menjalar cepat ke kedua bola mata yang menumpahkan cairan hangat. Tanpa disadari, cerminan hati tersebut lebih cepat merespon.
Waktu menunjukkan pukul 02.00 dinihari. Setelah membereskan pakaian ke dalam koper Echa melangkah keluar dari apartemen mewah Ir menuju lift, melewati lorong bernuansa keemasan yang remang dan hangat. Tak lama setelah menekan tombol, pintu lift terbuka. Siap membawanya menjauh, sejauh mungkin dari kehidupan Ir.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Echa tak dapat dihubungi. Bahkan ketika Ir menanyakan pada Irwan, lelaki 29 tahun itu memberi jawaban yang mengejutkan. Echa berhenti kerja.
Bersama Irwan, Ir mencari Echa kesana kemari. Ke sekolah juga teman-teman Echa, tempat yang biasa dan mungkin Echa datangi, tapi tak membuahkan hasil.
“Saya menyesal. Saya telah mengusirnya.”
Baru kali ini Irwan melihat wanita 33 tahun itu menangis.Baginya itu adalah pemandangan langka mengingat selama ini Ir selalu terlihat tangguh.
Satu pekan setelah kepergian Echa, hidup Ir kembali normal. Ia mulai bekerja seperti biasa, namun setiap ada waktu bersama Irwan, mereka mencari Echa.
Setiap kali Ir putus asa, setiap kali itu pula Irwan menyemangati. Selalu berusaha menumbuhkan harapan Ir yang hampir mati.
“Setelah kehilangan Jumanto, saya harus kehilangan Echa. Mungkin saya pantas hidup sendiri.”
“Tidak, Ir. Kamu berhak disayangi seperti juga kamu yang penyayang.”
Tanpa mereka sadari benang-benang tak kasat mata mulai mengikat kedua manusia beda usia itu. Memang sejak dulu Irwan menaruh hati pada Ir, namun wanita itu tidak pernah tertarik pada lelaki yang lebih muda.
Awal perkenalan mereka diperantarai oleh Echa yang merupakan karyawan paruh waktu di kafe Irwan.
Satu tahun kemudian...
“Saya tidak akan menikah tanpa kehadiran Echa.”
“Tapi kita sudah mencarinya, Ir. Dia menghilang, apakah saya tidak berharga bagimu?”
Ir diam. Dia belum mampu memberi jawaban yang diharapkan Irwan, calon suaminya.
Selama satu tahun, mereka telah mencari Echa ke banyak kota di pula Jawa dan Sumatera. Selama itu pula hubungan antara keduanya semakin erat sehingga Ir membuka hati dan menerima lamaran Irwan.
Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Ir telah iklas apabila Echa yang telah dirawat dan dijaga selama ini justru pergi melupakannya. Akan ada orang-orang baru yang mengisi hidup Ir.
Ir menatap diri di cermin. Begitu cantik dengan gaun lacebackless berwarna off white. Sederhana namun menonjolkan kecantikan alaminya. Segala sesuatu telah diurus oleh WO yang dipercaya oleh Irwan.
Awalnya Ir ragu karena Wedding Organizer itu masih baru dan belum terkenal. Tapi Irwan meyakinkan bahwa banyak temannya yang puas dengan pelayanan dan kinerja mereka. Terbukti saat ini Ir disulap menjadi wanita yang sangat cantik, siap menjadi ratu sehari.
Pintu kamar rias terbuka, seseorang melongokkan kepala.
“Apa mempelai wanita sudah siap?”
Make up artist sedang menyemprotkan setting spray di wajah Ir kala suara itu mengagetkan mereka. Ir tak percaya apa yang baru didengarnya, segera mungkin ia berpaling dari cermin, menatap lurus ke arah pintu.
“Echa!”
Demi melihat Echa berdiri di sana mempelai wanita nyaris berteriak. Echa segera menghambur dalam pelukan Ir.
“Kamu kemana saja, Cha. Maafkan saya. Saya mencari kamu kemana-mana.”
“Echa ada, Tan. Echa hanya tak ingin terlalu cepat menyudahi kedekatan kalian.”
“Ah, kamu, Cha.” Ir tertawa, beberapa bulir bening jatuh dari matanya.
“Jangan menangis, Tan. Nanti make up-mu luntur.”
“Kamu hebat, Cha. Tante tidak menyangka kamu bisa membangun sebuah wedding organizer.”
“Bukan, ini punya rekan saya. Saya hanya pelaksana. Bukankah Tante yang mengajari saya untuk mandiri.”
“Oh, Echa.” Sekali lagi kedua wanita itu berpelukan. Echa meminta MUA untuk membenahi make up Ir sekali lagi.
“Apa Tante sudah siap?”
Ir menghela napas setelah memejamkan mata beberapa saat, lalu mengangguk.
Hari itu rumah Irwan menyatukan dua hati, keluarga, juga mengembalikan yang hilang dari hidup Irma.
-Done-

tulisan ini saya serahkan pada Flores Sastra di http://floressastra.com/2016/12/31/tante-irma-cerpen-arwen-chandra-tatiano/