pemandangan di sekitar kawah ijen


Pemandangan di kawah ijen
    Setelah sekian lama vacum dengan dunia per blogg an kali ini saya hadir dengan satu cerita tentang surga kawah Ijen.
Cerita perjalanan ini adalah perjalanan kami tepatnya 1 tahun yang lalu dan baru sekarang saya sadar banyak perjalanan yang belum saya abadikan lewat secuil cerita di diary kecil saya, #akibat malas nulis.

Ini hari ke 2 kami,di banyuwangi setelah tragedi ketinggalan sunrise di Bromo dan pakek drama kepisah sama cowok-cowok.
Hari itu suasana gerimis malas-malas, padahal rencana kemarin kami naik ijen di cancel karna terlambat dan memutuskan ke baluran, sepulang dari baluran kami numpang leyeh-leyeh di kamar home stay nya mas joko warsito, kemudian jam 11 malam kami baru bergerak menuju Ijen dengan suasana gerimis yang bikin malas buat beranjak. 
Tapi karna kami nekat dan ngk mungkin cancel ke 2 kalinya buat naik ya kami lanjutkan perjalanan.
Teng jam 12 lewat dini hari kami tiba di paltuding tepatnya pos pertama sebelum muncak.
Karna udaranya yang dingin kami memutuskan  menunggu di warung untuk menghangatkan tubuh, sambil menikmati secangkir teh hangat dan pisang goreng, di situ kami berjumpa dengan pak  Bahri yakni salah satu penambang blerang di kawah ijen. 

Pak Bahri Tour Gat kami menuju Kawah Ijen

Saat menikmati hangatnya teh manis iseng-iseng nanya ke pemilik warung apakah ada yang bisa menjadi tour gate kami untuk menuju kawah ijen, pemilik pun dengan sigat memanggil pak Bahri, akhirnya keputusan deal dengan harga Rp 150.000 bapak Bahri menjadi tour gate kami menuju kawah ijen, sebenarnya tanpa tour gate juga bisa sampai ke kawh ijen, tapi tidak ada salahnya jika kita meringankan sedikit beban dari para penambang,  karna harga yang di bayar dari hasil keringat mereka tak sesuai dengan tenaga yang mereka keluar kan, intinya 150.000 di bagi lima mah buat kita hanya hitungan menit aja selesai, tapi beda untuk pak Bahri, uang segitu merupakan rejeki yang luar biasa, jadi bisa kebayang kan berapa upah penambang di sana.

nge teh sebelum mendaki
Rian, Eka Dewi,Asad,Eka Handa,Zack


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari,  pintu gerbang pun di buka dan kami mulai bergerak menuju puncak kawah ijen, sebelum berangkat tak lupa berdoa terlebih dahulu untuk keselamatan dan beres-beres isi tas apa aja yang perlu di bawa.
Usahakan jangan terlalu banyak bawa barang karna bawa badan aja udah berat apalagi bawa barang,  usahakan bawa air mineral secukupnya dan perlengkapan gadgets serta dompet dan makanan ringan. 
Untuk perlengkapan lainnya jangan lupa safety seperti masker dan sarung tangan, kalo masker bagi kamu yang sensitive baiknya menyewa masker pada para penambang biasanya sudah di sediakan dengan harga Rp 25.000, kalo sarung tangan untuk mengurangi dingin bisa kita beli dengan harga Rp. 10.000. 
Perlengkapan sudah,  barang bawaan sudah juga,  berdoa juga sudah tinggal melangkahkan kaki dan tekat hati nyampek puncak.
Perjalanan di mulai awal perjalanan masih biasa saja,  walau agak mendaki masih bisa di lewati, lanjut ke jam berikutnya dua jam perjalanan saya mulai lelah, mulai ngos-ngosan, jalan pun makin menanjak, akhirnya saya minta istirahat sebentar untuk mengumpulkan tenaga lagi, minum air putih dan duduk sejenak agar tenanga terkumpul kembali, teman-teman yang lain tak berhenti memberi semangat karna di antara mereka kondisi saya lah yang paling di ragukan, padahal saat itu Asad juga lagi masa penyembuhan dari sakitnya kondisinya pun tak cukup baik, tapi tetap salut dia masih kuat dan semangat tanpa ngeluh,  berbeda dengan Eka Handa selalu mandiri dan tak pernah mengeluh, bahkan dia terlihat biasa saja saat mendaki, benar-benar salut, sementara Zack dan Rian anteng dan cool mandiri banget dan selalu ngasih semangat.

Sepanjang perjalanan saya selalu bertanya ke pak Bahri apakah jalan mendaki seperti ini masih panjang dan jauh, dengan sigap pak Bahri menjawab " ngk kok mbk dikit lagi malah mau nyampek,  kalo ngk kuat berhenti aja dulu nanti jalan lagi, ngk usah buru-buru lagian ini masih dini hari waktu masih panjang"  saya pun sedikit lega, tekat harus kuat ngk boleh manja, jangan hanya karna saya yang lain jadi ngk keburu liat blue fire. 
Akhirnya perjalanan di lanjut, karena tekat yang kuat akhirnya semangat terkumpul kembali, yang tadinya tanjakan mendaki terasa berat karna sudah mulai terbiasa akhirnya bisa di lewati.
Jam 2:40 kami sudah sampai di atas dan jam 03:00 dini hari kami di ajak turun oleh pak Bahri untuk melihat blue fire.




blue fire

Ternyata perjalanan turun itu lebih melelahkan dan agak seram menurut saya dari pada mendaki, karna perjalanan turun menuju blue fire curam dan banyak melewati bebatuan licin, untung ada pak Bahri yang selalu menuntun saya, selain licin jalanya juga agak curam jadi perlu pegangan, entahlah lagi-lagi di sini saya yang perlu bantuan, sementara yang lain bisa mandiri,  apalagi Eka Handa salut ama semangat dan keberaniannya, ngk salah ni anak suka tinggi dan extreme. 
Akhirnya 30 menit kemudian kami sampai di bawah, melihat keindahan secara langsung dengan mata telanjang, indah nya kuasa ALLAH luar biasa, lagi-lagi saya mengucap syukur bisa sampai ke sini dengan keindahan yang luar biasa.
Blue fire ini hanya ada di 2 negara yaitu Indonesia dan Iceland, suhunya mencapai 700°c,
Kebayangkan gimana panas nya. 

jalan berbatu yang licin menuju blue fire





Sesampainya di bawah Zack dan Eka Handa melihat langsung para penambang dari dekat,  mereka melihat bagi mana cara mereka menambang dan membuat pernak pernik cantik dari batu hasil tambangan mereka, dan mereka pun membeli beberapa cendera mata, sementara saya hanya berdiri agak jauh dari api dan para penambang bersama Asad sambil menunggu Zack dan Eka Handa,  sementara Rian hanya sebatas mengambil foto dan setelah itu berkumpul menunggu bersama kami.
Puas sudah di bawah kami mulai naik lagi untuk melihat keindahan pemandangan kawah ijen, lagi-lagi saya berdecak kagum, selain udaranya segar pemandangan nya juga luar biasa indah. 
Dari sudut mana pun tak ada tempat yang tak bagus, semua bagus dan indah, rasanya ingin berlama-lama di sana tapi apa boleh buat, waktu juga yang membatasinya,  kami harus secepatnya turun lagi dan sebelum jam 8 pagi harus sampai di paltuding.
Perjalanan turun memang lebih mudah tapi lebih capek karna harus menahan beban tubuh, setelah melihat sekeliling ehhh ternyata tadi malam ngelewatin jurang dan jalan mendaki yang aduhai kalo siang mungkin ngk sanggup deh nanjak lagi. 
Keindahan pemandangan di kawah ijen

tangga sebelum turun menuju blue Fire