Bangku taman itu menjadi satu-satunya tempat terbaik untukku menikmati senja, sendirian. Kertas putih polos dan sebuah pensil menjadi satu-satunya yang selalu kubawa untuk sekadar menggoreskan sesuatu. Jika kebanyakan orang membenci kesepian, aku tidak. Aku sangat menikmati waktuku saat sendiri. Aku merasa menjadi diri sendiri, hanya saat aku sendiri. Aku merasa utuh, saat aku sendiri. Kesepian bagiku bukanlah sesuatu yang harus diratapi, tidak perlu. Karena toh selama ini aku juga selalu sendiri.
Aku mulai menggoreskan pensilku di atas kertas kosong itu. Sesekali aku menghela nafas panjang sembari menatap langit yang sejingga namaku. Kertas yang semula polos itu mulai terisi sebuah gambar setengah jadi saat aku merasa seseorang duduk di sebelahku. Aku menoleh sedikit, dia tersenyum lalu fokus lagi dengan sebuah kamera di tangannya. Aku agak tidak nyaman dengan kehadirannya.
“Mau ke mana?” tanyanya saat aku beranjak dari bangku itu.
“Pulang.” Jawabku singkat.
“Saya ganggu kamu?” tanyanya lagi. Aku menggeleng, “permisi.” Kataku sambil berlalu.
Ritual senjaku harus kusudahi karena laki-laki asing itu. Matahari yang tinggal sedikit itu membakar langit sampai hangus. Senja pun berakhir. Malam dengan bulan yang menggantung indah di langit ditemani beberapa bintang menggantikan matahari yang penat setelah seharian menyinari bumi. Selain senja, aku juga suka malam. Malam dengan senyapnya yang selalu mampu membuatku merasa tenang. Malam bagiku adalah waktu terbaik untukku membebaskan diri, memikirkan apapun, mengkhayalkan apapun. Malam adalah waktu yang paling tepat untuk rindu. Aku memang seperti orang yang sedang rindu, entah pada apa atau pada siapa.
Semenjak kejadian sore itu, aku belum melihat lagi laki-laki asing itu beberapa hari ini. Ritual senjaku berjalan seperti biasa. Aku menggambar sambil sesekali memandangi setiap pergerakan matahari menuju barat, dan sesekali celingukan mencari-cari sosok yang tidak kutahu ia siapa. Aneh! Kenapa aku mencari-cari dia! aku mengutuk diriku sendiri lalu melanjutkan gambarku yang sedikit lagi selesai.
“Hai!”, suara itu mengagetkanku.
Aku menoleh ke arahnya sebentar, lalu menggeser posisi dudukku membiarkan dia duduk di sebelahku.
“Bagus gambarnya.” Katanya sambil memperhatikanku yang fokus menyelesaikan gambarku.
“Ah, engga. Banyak yang lebih bagus, kok.” Jawabku tanpa sedetikpun menoleh ke arahnya.
CEKREK!!
Aku yang kaget dengan suara jepretan kameranya lantas menoleh ke arahnya, dan CEKREK, dia berhasil membidik (lagi) wajah tanpa ekspresiku. Dia terkekeh lalu melihat hasil bidikan kameranya.
“Kenapa kamu seenaknya memotret saya?!” tanyaku protes. Dia yang diprotes lalu menoleh ke arahku, aku membuang muka.
“Kenapa kamu tidak pernah mau menatap lawan bicaramu?” tanyanya. Skakmat. Aku memang tidak nyaman jika harus menatap mata seseorang saat berbicara. Toh, saat berbicara yang penting kita dan lawan bicara kita sama-sama paham dengan apa yang dibicarakan, itu sudah cukup, bukan?
“Eh, ngomong-ngomong kita belum berkenalan. Namaku Fajar.” Katanya sambil mengulurkan tangannya.
“Jingga.” Aku membalas uluran tangannya, dia tersenyum.
“Indah. “ katanya sambil membebaskan pandangannya ke langit luas. Aku mengamini. Kulepaskan juga pandanganku sebebas-bebasnya. Tunggu dulu, ada yang ingin lebih lama kupandang, dua pijar matanya. Matahari menuntaskan tugasnya, langit resmi gelap.
Senja-senja berikutnya terasa berbeda, tentu saja berkat kehadirannya.
*****
Aku sedikit berlari dan buru-buru menaiki bus itu. Aku tidak membawa tas atau semacamnya, hanya uang secukupnya dan sebuah buku berisi kumpulan hasil gambar selama ini. Pandanganku menyapu seluruh isi bus, mencari-cari bangku yang kosong. Aku sampai di deretan nomor dua dari belakang, tepat di dekat jendela. Pikiranku tak tentu, apalagi bus ini tidak segera berjalan. Kuambil ponsel dari saku untuk memastikan jam berapa sekarang dan kira-kira kapan aku tiba di sana. Setelah memperkirakan pukul berapa aku akan sampai, aku sedikit lega. Masih ada waktu satu setengah jam lagi. Lalu, kubuang pandanganku ke luar jendela.
“Jingga, sore nanti aku tidak bisa menemanimu melihat senja lagi.”
“kenapa?”
Percakapan dengannya tiba-tiba muncul. Percakapan telepon terakhir dengannya yang kuingat tanpa harus berusaha. Percakapan yang merundungku semalaman, menghantuiku.
“Besok pagi keretaku berangkat. Aku harus pulang ke Jogja.” Suaranya berat.
*****
“Saya benci pagi, Jar.” Kataku saat dia mengantarku pulang. Dia menatapku penuh tanya.
“Pagi selalu merenggut segala yang sudah kurencanakan semalaman.” Tambahku.
“Kamu keliru” katanya menanggapi pernyataanku. Kini giliran aku yang menatapnya penuh tanya.
“Pagi tidak pernah merenggut apapun, Jingga. Pagi justru akan membantumu membuat rencana-rencanamu menjadi nyata.” Dia menatapku penuh keyakinan. Aku memandang tanah yang sedang kupijak, memikirkan ucapannya.
“Jingga, selama ini kamu cuma takut. Kamu takut pada mereka sampai-sampai kamu selalu memilih sendiri. Kamu takut mencoba memulai sesuatu yang baru. Kamu takut dengan dirimu sendiri.” Lanjutnya.
“Saya takut jatuh.” Jawabku.
“Apa? Kamu takut jatuh? Hei, Jingga. Jangan dulu pikirkan itu. Terbang saja dulu setinggi-tingginya, sebebas-bebasnya. Setelah itu baru pikirkan cara jatuh yang keren.” Matanya berbinar, memberi harapan baru.
Aku terpana.
Namanya Fajar. Dan dia adalah pagi, yang aku sukai.
*****
Bus berjalan pelan, di luar sana hujan deras mengguyur. Beberapa kali bus terhenti karena terjebak macet. Aku mulai panik sambil melihat-lihat jam. Empat puluh lima  menit lagi keretanya berangkat dan aku belum tiba di stasiun. Setelah menimbang-nimbang aku memutuskan untuk membayar lalu turun, toh jarak ke stasiun sebenarnya tidak terlalu jauh dari sini. Aku berlari menerjang hujan, sesekali berhenti di depan toko atau tempat apapun yang bisa untuk berteduh sejenak sembari memikirkan jalan mana yang akan kulewati. Setelah merasa cukup, aku kembali berlari.
Tubuhku basah kuyup saat aku tiba di stasiun. Tepat tiga puluh menit lagi keretanya berangkat, aku cukup memuji skill lariku yang lumayan berguna juga untuk saat-saat seperti ini. Aku menerobos masuk ke ruang tunggu, ramai sekali. Aku menyapukan pandangan ke seluruh penjuru agar segera cepat menemuinya. Kudatangi setiap sudut untuk memastikan keberadaannya, tapi tak juga kutemukan di mana dia. kucoba meneleponnya yang sejak percakapan semalam itu tidak aktif.
Pengumuman dari stasiun berbunyi nyaring, pertanda penumpang kereta argo wilis segera check in. Aku putus asa, mungkin dia sudah berada di  antara deretan penumpang yang check in.  Atau bahkan sudah memasuki area departure. Aku kecewa karena tidak berhasil menemuinya untuk terakhir kalinya.
“Jingga!”, teriaknya mengagetkanku. Aku seperti tidak percaya dia berada dua meter di depanku. Dia berjalan mendekat sambil  menggendong ransel besarnya dan kamera yang menggantung di lehernya. Seketika segalanya beku, keramaian dan hiruk pikuk di sekeliling kami seolah membisu, pengeras suara yang berisik itu seperti  terdiam. Kulihat langkahnya mendekat. Ragu-ragu, dan masih sama, matanya masih begitu pikat, senyumnya yang tertahan seperti kuncup bunga di pagi hari. Dia menatapku seolah tidak percaya aku ada di hadapannya sekarang.
“Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak datang.” Kataku kemudian. Senyumnya merekah. Dia mendekat lalu merangkulku.
“Terimakasih, Jingga. Terimakasih.” Ujarnya pelan tanpa melepas pelukannya. Dadaku menghangat, sepipun merebak. Kuberikan padanya buku kumpulan gambarku, kemudian kubiarkan dia pergi dengan perasaan yang lebih baik. Aku melambaikan tangan, dia membidikku dari kejauhan.
Hati-hati. Ujarku lirih. Dan demikianlah kemudian aku tidak lagi membenci pagi-pagiku. Pertemuan singkat dengannya yang membuatku melihat dunia yang ternyata tidak semenyeramkan itu.

Namanya Fajar. Dan pagi, terbit dari matanya.


Saat Jatinangor diguyur hujan pagi-pagi,
Maret 2018
Alfa Fs - 180110170042