https://www.google.co.id/search?biw=1366&bih=656&tbm=isch&sa=1&ei=ejtGWpGzNInUvAS93LTgAw&q=melambaikan+tangan+pada+kekasih&oq=melambaikan+tangan+pada+kekasih&gs_l=psy-ab.3...20430.21375.0.22351.14.6.0.0.0.0.255.603.0j2j1.3.0....0...1c.1.64.psy-ab..12.0.0....0.JegL3ubt0IU#imgrc=VGaNRDKH-bUTEM:

Siluet jingga keemasan yang tergores di langit mulai memudar saat mata kami bertemu. Kami paham, di samudera terdalam  kami itu  terselip ketakutan dan keraguan. Pada siapa?  Jarak dan waktu. Ini senja terakhir kami sebelum besok pagi Bhumi pindah ke luar kota. Rel-rel yang panjang dan ruwet itu akan membentangkan jarak, kurang lebih 396 km.
“Mau duduk disini?” tanyanya sambil menepuk bahu jembatan yang kusam itu, entah sudah berapa lama terik dan hujan menamparnya.
“kamu kan tahu aku takut ketinggian”
“jangan khawatir, aku pegangi kok. Rasanya unik loh,” dia berusaha meyakinkan.
Aku menggeleng, enggan. Membayangkan bagaimana jika aku terjatuh di hamparan sawah yang ada di bawah jembatan itu.
“takut jatuh?”  tanyanya sedikit meledek. “jangan dulu takut jatuh. Terbang aja dulu setinggi-tingginya. Nanti baru kamu pikirin cara jatuh yang keren.” Tambahnya
“apa sih..” aku memukul pelan bahunya. Kami terkekeh. Dan lagi-lagi dia terdiam menatapku. 
"Besok pagi aku berangkat.. " katanya. Aku menghela nafas panjang, tidak tahu harus bagaimana. Satu sisi aku senang dia bisa mewujudkan keinginannya untuk melanjutkan studi di Kota itu, tapi itu artinya kami tidak bisa lagi menikmati senja di jembatan tiap sore. 
"Rasa-rasanya waktu cepat sekali ya berlalu.." aku melepas pandanganku ke langit yang mulai pucat. 
"Kita masih bisa berkabar setiap hari kan?" tanyanya, dia memaksakan sesimpul senyum entah untuk apa. Aku mengangguk, mengiyakan.
Tiba-tiba kami bisu, sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Dan aku, aku sibuk dengan ketakutanku. Tentang bagaimana nantinya waktu akan menjadikan kami, seperti apa nantinya kami, dan apakah kami akan menyerah.
Aku sangat berharap untuk kali ini saja 1 menit tidak sama dengan 60 detik, bisakah waktu mengalah kali ini saja?.
Sementara dia menawarkan diri untuk mengantarku pulang seperti biasanya. Aku mengangguk pasrah. Di jalan pulang, tak sepatah katapun keluar dari mulut kami. Sesekali aku terbatuk, sesekali dia berdehem. Seperti ada sesuatu yang meronta ingin dikeluarkan. 
"Besok kukabari ya.." katanya sesampainya di depan gerbang rumahku, aku mengangguk. 
"Kamu besok hati-hati.. jangan nakal ya.." kataku, dia mengacak rambutku gemas. Lalu mendekapkan kepalaku di bahunya, erat sekali.  Aku memejamkan mata, samar-samar tercium aroma parfumnya.
"Aku janji.." katanya sambil mengangkat dua jari dan tangan satunya mengacak rambutku lagi. 
Lalu dia pulang, melambaikan tangan berkali-kali kearahku yang hanya bisa tersenyum getir menyaksikan punggung itu perlahan menjauh. Bhumi, semoga jarak tidak lantas membuat kita takut.