Aku terlahir sebagai perempuan. Perempuan yang mungkin dianggap sebagian orang cengeng, lemah, serta penakut. Tapi sejak pertemuan itu, aku sadar bahwa kamu memperlakukanku dengan cara yang berbeda. Berbeda? Ya, bahkan sangat berbeda. Kamu yang selalu membuatku optimis. kamu yang membuatku berpikir dewasa. Kamu, hanya kamu.
Terimakasih, untuk segala hal yang kamu berikan. Terimakasih untuk waktu berharga yang rela kau buang hanya untukku. Aku sadar, aku belum sepenuhnya menjadi apa yang kamu inginkan. Tapi dengang ijin waktu yang terus berputar, aku akan mencoba untuk menjadi perempuan yang jauh lebih baik lagi.
Aku tidak seperti Aisyah yang mengerti agama dengan baik, tapi karenamu, karena ilmu yang kau miliki, perlahan aku mulai mengerti sedikit demi sedikit kewajibanku sebagai seorang muslimah. Ya, aku mengerti, betapa bodohnya aku selama ini. Tapi lagi-lagi kamu hadir sebagai penyemangat, kalimat-kalimat indahmu yang selalu terngiang dibenakku, membuat aku menjadi semakin semangat. "Kalo kamu ngeluh dan cuma putus asa terus, kamu ngga akan berhasil. Percaya deh sama aku, Allah selalu punya cara tersendiri buat umat-Nya.", begitu katamu.
Hingga suatu hari, kamu harus melanjutkan studimu di tempat lain. Tempat yang tak bisa kujangkau dengan inderaku. Sedih? Sangat, tapi aku berpikir bahwa ini yang terbaik bagimu. Jarak tak akan membuat hubungan ini berbeda. Aku tahu, kamu tahu, Allah-pun tahu, bahwa niat baik akan selalu berakhir baik. Aku harus merelakanmu walau aku tak ingin. 
Aku tak ingin menjadi perempuan egois, aku tak mungkin menghentikan mimpimu. Mimpi yang sedari kecil selalu berusaha untuk kau gapai. Walau jarak terbentang panjang, itu tak akan mengurangi kasihku sedikitpun. Bagaimana akhirnya? Biarlah hanya Allah yang tahu.