Buat kamu yang kumaksud, terimakasih atas empat tahun terindah yang sudah kamu berikan. Tanpa semua itu, aku mungkin takkan bisa sekuat ini. Aku selalu menyukai caramu untuk membuatku tersenyum.
Buat kamu yang kumaksud, terimakasih untuk kasih sayang tulus yang selama ini kamu beri. Maaf, selalu membuatmu berulang kali mengatakan "Aku sayang kamu". Dulu aku memang ragu saat mendengarnya, namun sekarang aku tahu kamu memang tulus.
Buat kamu yang kumaksud, terimakasih atas kesabaranmu mengajariku arti hidup yang sebenarnya. Terimakasih sudah membuatku bisa melewati hinaan dan cacian dari orang - orang yang hanya menjadi parasit dihidupku. Tanpamu, aku takkan pernah tahu siapa "mereka" yang sebenarnya.
Buat kamu yang kumaksud, terimakasih kamu sudah menyadarkanku untuk memilih mana yang "baik" dan mana yang "buruk" untukku. Maaf, selama ini aku selalu egois hingga pada akhirnya aku menyesal dengan keputusanku sendiri.
Buat kamu yang kumaksud, maaf sudah sering membuatmu menunggu. Bukan, bukan maksudku untuk sengaja "terlambat". Hanya saja perlu beberapa waktu untuk menyelesaikan masalahku dengan "mereka".
Buat kamu yang kumaksud, maaf harus membuatmu bangun pagi - pagi buta dan datang ke rumahku hanya untuk membangunkanku dari tidurku. Maaf membuatmu marah karena aku tak kunjung bangun. Aku tak pernah marah saat kamu memanggilku "kebo". Justru aku sangat merindukannya kata itu sekarang.
Buat kamu yang kumaksud, terimakasih sudah membuatku keluar dari zona nyaman yang selama ini selalu aku takuti. Maaf sudah membuatmu menunggu selama hampir dua tahun hanya untuk mendengar "Aku siap untuk keluar dari zona ini.".
Buat kamu yang kumaksud, terimakasih sudah meyakinkan kedua orang tuaku supaya mereka berhenti menganggapku seperti anak kecil. Terimakasih sudah membuat mereka percaya bahwa aku bisa dan yakin dengan keputusanku sendiri.
Buat kamu yang kumaksud, tetaplah seperti ini. Tetaplah menjadi "Kamu yang kumaksud". Tetaplah menjadi kamu yang selalu memarahiku saat aku menyerah, saat aku putus asa, saat aku terpuruk. Tetaplah menjadi kamu yang selalu khawatir saat aku sakit. Tetaplah menjadi kamu yang mengerti bahwa aku bukan seperti "mereka". Tetaplah menjadi kamu yang yakin bahwa aku adalah aku. Tetaplah menjadi kamu yang selalu berkata "Andri, kamu bisa. Banyak orang yang butuh kamu, kamu harus bangkit. Kamu ngga perlu dengerin omongan orang. Ini hidup kamu, bukan hidup mereka.".
Buat kamu yang kumaksud, sejujurnya aku tak pernah mengekangmu untuk berhubungan dengan siapapun. Aku selalu mempunyai alasan yang tak harus ku katakan agar kamu menjauhi(nya). Bukan, bukan karena aku ingin memilikimu, hanya saja aku tak ingin hatimu terluka saat kamu tahu bagaimana dia yang sebenarnya.
Buat kamu yang kumaksud, maaf karena aku terlalu egois untuk mengaku salah. Maaf karena aku terlalu gengsi untuk mengakui bahwa aku menyayangi seseorang. Maaf karena aku terlalu putus asa saat aku tahu aku bukanlah apa-apa. Maaf karena aku selalu munafik dalam segala hal, termasuk mengakui bahwa aku sangat menyayangimu.
Yang terpenting......

Buat kamu yang kumaksud, terimakasih sudah menjadi teman, sahabat, soulmate, musuh, saudara, keluarga, abang, panutanku, tempatku curhat, dan juga tempatku bersandar saat aku jatuh. Aku tak akan pernah tahu, bagaimana jalan hidupku jika Tuhan tidak mempertemukan kita. Kamu... Terimakasih mungkin tak akan pernah cukup untuk membalas semua yang sudah kamu lakukan di hidupku. Tapi aku, disini, akan selalu bersedia menjadi tempat pertama dan terakhir bagimu untuk mencurahkan seluruh kesah yang kamu rasakan. Terimakasih sudah selalu berusaha menjadi yang terbaik untukku. Terimakasih atas kenangan berharga yang kau lukis di hidupku.