Hi Readers ! hari ini karena nggak ada bahan buat di tulis hari ini saya Icih pengen nulis pengalaman waktu dulu yang barusan ketemu di binder (Sejenis buku diari) lama aku oke deh silahkan di baca semoga menghibur , tapi maaf kalau ada kosakata yang tidak dimengerti ato ga rame namanya juga anak smp masih kecil harap maklum yaa

" Hari Paling Sial "

Cerita ini dimulai pada saat aku berumur kurang lebih 12 tahunan , sebenarnya pengalaman ini adalah pengalaman paling memalukan yang tidak pernah aku ceritakan tapi yah sudahlah, akan ku mulai ceritanya.

Pada sore hari itu Bandung terasa sangat dingin dan telah diselimuti oleh awan awan berwarna gelap yang berkumpul di berbagai sudut cakrawala , aku (Icih) dan temanku Nurul sedang pergi menjemput adiknya yang bernama Erwin yang pergi mengaji disalah satu tempat pengajian di dekat komplek perumahan kami.

Saat kami berdua sedang asik berbincang tiba tiba temanku pun terpeleset oleh salah satu kubangan lumpur dan terjatuh dengan posisi pantat terlebih dahulu , kulihat temanku meringis kesakitan karenanya, karena tidak tega melihatnya aku pun mencoba untuk membantunya berdiri dan pantatnya pun otomatis penuh dengan lumpur ( ya namanya juga jatuh lah, tapi ini malu sih soalnya dia kayak yang pup dicelana) , saat dia sudah bangkit dari kubangan lumpur tersebut kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata cobaan tidak hanya itu saja saat ditengah perjalanan menjemput adiknya, aku pun terpeleset oleh kubangan lumpur seperti temanku, seketika aku pun mengucap kata kata kebun binatang (sejenis ing,bi bi  nyet) , temanku pun mencoba menolongku namun ia ikut terpeleset dan jatuh kedalam kubangan lumpur baju kami kotor oleh bercak bercak lumpur tersebut, kami pun tertawa terbahak bahak atas apa yang menimpa kami (sebenernya sih malu untung lagi sepi jalanan) , lalu saat kami melanjutkan perjalanan kembali langit pun sedikit demi sedikit menitikan hujan ke tubuh kami , temanku pun berkata padaku "Mir , ujan nih bawa nggak payung yang waktu tadi aku kasih pas dirumah aku tea?" (nama aku amirah tapi sering dipanggil icih juga) "Oh bawa-bawa, kela sakedap" aku pun mencari carinya didalam tasku dan akhirnya aku menemukannya, namun andai saja pada waktu itu aku lebih cepat menemukan payungnya karena saat aku ingin membuka payung itu kotoran burung pun jatuh tepat diatas kain kerudungku "MAMAH !! IIHH JIJIK !!" Teriakku pada saat itu , dengan terpaksa aku membuka kerudungku karena aku sangat jijik melihatnya (dan nanti takut kena fluburung aku) , aku pun memasukan kerudungku dalam kresek dan segera melanjutkan perjalanan menjemput adik temanku menggunakan payung berwarna hijau ini.

Hujan pun mulai berubah deras menitik dengan deras sekali disertai angin kencang , dengan payung ini kami berlindung dari derasnya air hujan itu , sesekali kami hampir ikut terbawa arus angin yang datang bersama hujan , namun saat kami sedang asik mengobrol dan mempertahankan diri dari terpaan hujan, angin kencang pun datang membuat kain daripada payung ku terlepas dan terbang kami pun segera mengejar kain itu walau dengan resiko keterlambatan menjemput dan badan yang basah kuyup oleh air hujan( sama malu juga ini sumpah) , orang orang disekitar yang melihat kami tertawa kecil ketika melihatku , seolah mereka sedang membincangkan tentang kita, aku pun berucap dalam hati "oh.. tuhan malu sekaali.. apa salahku sehingga diberi kesialan bertubi tubi seperti ini ". Setelah beberapa saat kami berputar putar mengejar kain payung itu akhirnya kain itu terjatuh di tengah sawah besar dengan penuh lumpur , dengan berhati hati aku menyusuri jalan setapak disawah itu namun *BLUPUPUP* aku terjatuh dan kaki ku masuk kedalam sawah itu "SIAL ! SAKIIT SEKALI" sekarang kakiku pun diselimuti oleh lumpur yang sangat tebal dan lengket

Akhirnya kami pun kembali melanjutkan perjalanan dan ternyata seluruh jalan telah tergenang oleh banjir yang kira kira setinggi lutut ku ini aargh ! kami pun kesal dengan semua cobaan ini dan nekat menerobos banjir itu demi menjemput adik temanku (Pulangnya kaki kita gatel gatel) , saat sudah sampai di tempat pengajian Erwin ternyata ia telah diantar pulang oleh salah satu orang tua sahabat nya ANJIR.... Watir banget lah ini mah *JLEB* itulah perasaan hati kami saat mendengar perkataan dari salah satu penjaga pengajian itu.

Itulah kisah aku dan Sahabatku (Nurul) yang tak pernah akan kulupakan seumur hidupku, maaf kalo kaga rame.

terimakasih banyak
stay tune terus yaaa !!
salam Ponchocho!