Semakin hari semarak Asian Games 2018 makin dirasakan dan menggema ke seantero pelosok negeri ini, dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Pulau Rote. Seluruh lapisan masyarakat Indonesia tentu tidak ingin melewatkan gegap gempita dan euforia langka yang bisa jadi hanya bisa dirasakan sekali seumur hidup. Bayangkan saja, dalam rekaman sejarah penyelenggaraan Asian Games, pertama kali Indonesia mendapatkan kesempatan menjadi tuan rumah adalah pada tahun 1962 yang merupakan gelaran ke-4 Asian Games. Dan setelah rentang waktu yang cukup panjang, tepatnya 56 tahun, kini tahun 2018 Indonesia kembali berkesempatan menjadi tuan rumah event olahraga terbesar kedua di dunia ini untuk yang kedua kalinya.

Berbagai macam acara dilaksanakan oleh pemerintah dan INASGOC sebagai panitia pelaksana Asian Games 2018 serta mengajak pihak-pihak terkait lainnya untuk berpartisipasi dalam rangka mendukung bersama suksesnya penyelenggaraan Asian Games 2018 ini. Salah satu event bergengsi yang diselenggarakan oleh pemerintah adalah Writingthon Asian Games 2018

Writingthon Asian Games merupakan kegiatan karantina kepenulisan yang merupakan kerjasama antara Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Bitread Publishing. Salah satu output yang ingin dicapai dari Writingthon Asian Games 2018 ini adalah menghasilkan suatu karya buku yang bertemakan “Asian Games 2018, Energy of Asia”

Terhitung mulai Rabu, 15 Agustus 2018 kemarin, kegiatan Writingthon Asian Games 2018 resmi dibuka. Menariknya, event ini berhasil mempertemukan penulis-penulis, baik dari kalangan blogger ataupun pelajar dan mahasiswa. 

Dan hari kedua, mempertemukan kami yang terdiri dari, Sara (Blogger) dari Solo, Firman (Blogger) dari Tangerang, Rani (Mahasiswa) dari Bandung dan Fathul (Mahasiswa) dari Makassar. Jika dilihat  kami berasal dari dua pulau yang berbeda, yaitu Jawa dan Sulawesi. So, inilah enam hal menarik Writingthon Asian Games 2018 versi kami, Java dan Celebes.

1. Semangat Asian Games membentang dari Aceh hingga Papua

di Bandara Soekarta Hatta

Wilujeng Sumping, Selamat Datang ke Writingthon Asian Games 2018. Peserta Writingthon yang datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia membawa semangat antusiasme yang luar biasa. Kami semua saling berlomba untuk memposting dan menggaungkan semangat Asian Games melalui media-media sosial dan blog yang kami miliki. 

Bisa dibayangkan, bukan? Bagaimana semangat dan antusiasme Asian Games dari Aceh hingga Papua yang dibawa oleh masing-masing peserta Writingthon Asian Games 2018?

Spot-spot foto Asian Games 2018 yang terdapat di sudut-sudut kota serta di berbagai tempat publik, seperti Bandara, Stasiun, Terminal dan lain-lain menjadi salah satu hal menarik yang banyak digaungkan oleh para peserta. Termasuk kami berempat yang berasal Java dan Celebes.

 2. Generasi milenial di Millennium


Generasi milenial terkenal dengan gadget everytime and everywhere. Rasa-rasanya tidak mungkin ada bagian dari generasi milenial yang kudet teknologi. Namun, apakah ”kegaulan” generasi milenial—termasuk kami—itu tetap bertahan di hotel semilenial Millennium?

Kami menganggap Millennium, hotel di bilangan Jakarta Pusat yang kami tempati pada hari pertama Writingthon Asian Games 2018, hotel yang amazing. Pelayanannya top, letaknya strategis, dan sistem keamanannya yang menggunakan teknologi mutakhir, sehingga sulit untuk dikelabui. 

Nur Azizah Maharani, peserta Writingthon asal Jawa Barat, memiliki cerita tersendiri tentang pengalamannya sebagai generasi milenial di Millennium. Rani, begitu ia biasa disapa, mengunjungi sebuah minimarket yang terletak tepat di pintu samping Millenium, hanya beberapa jam setelah ia check in. Karena teman sekamarnya sedang mandi, Rani pun pergi meninggalkan kamarnya di lantai enam tanpa membawa kunci kamar yang berbentuk kartu.

Sial, setelah selesai berbelanja, Rani tidak bisa kembali ke lantai enam karena sistem lift Millennium yang canggih mengharuskan seluruh pengunjung untuk menggunakan kartu jika ingin menggunakan lift.

Malas melapor ke resepsionis, akhirnya Rani memutuskan untuk naik ke lantai enam menggunakan tangga darurat yang letaknya sedikit tersembunyi dan dipisahkan dari bangunan utama oleh sebuah pintu. Namun ternyata, pintu itu hanya bisa dibuka tanpa kartu dari luar. Rani, yang sudah masuk ke dalam wilayah tangga darurat, akhirnya terjebak di dalam.
Akhirnya, saya menghubungi Kak Made, peserta Writingthon asal Bali, demi meminta bantuan,” kata Rani. ”Kak Made membukakan pintu darurat untuk saya, lalu saya melapor ke resepsionis. Hoream pisan (red—ribet banget, logat Sunda)”

3. Cita rasa di lidah masyarakat timur Indonesia


Untuk sebuah rasa, lidah adalah pedang untuk membelahnya. Begitulah masyarakat Bugis melihatnya. Untuk kesempatan yang telah datang, kami menikmati beragam makanan yang disuguhkan oleh penyelenggara acara, yaitu Kominfo dan Bitread. Untuk rasa? Tentu berbeda! Makassar yang terkenal dengan makanan khasnya yang nikmat dan lezas sebut saja Coto Makassar, Pisang Ijo dan Konro mampu memanjakan lidah para penikmatnya.

Dalam kegiatan ini terdapat makanan yang cukup "berbeda" ialah ketika coffee break berupa makanan serupa roti yang digoreng dan berisikan semacam daging yang telah digiling. Di daerah Makassar makanan ini biasanya disuguhkan dengan isian gula merah dan daun pandan. Rasa yang berbeda hadir di lidah ketika makanan tersebut dimakan.   

Begitupun ketika makan pagi, Hotel Millennium menyuguhkan masakan yang cukup familiar di lidah masyarakat, yaitu ’nasi kuning’. Namun, ketika dirasakan, tekstur dari masakan ini cukup beda, lebih kering dan tidak berminyak. Sedangkan untuk nasi kuning di Makassar biasanya lebih basah makanannya. Begitulah cita rasa yang dirasakan, berbeda tetapi tetap nikmat di lidah.

 4. Unity in Diversity

Perbedaan adalah persatuan yang harus dirangkul kembali. Asian Games mengumpulkan orang-orang hebat untuk terlibat langsung dalam projek buku Asian Games. Kami berkumpul dan bersatu dalam tujuan pasti, Indonesia bermartabat! Tentu kami berbeda, dari warna kulit, budaya dan agama. Salah satu yang sangat terlihat ialah akses dari setiap peserta, seperti Natalia Tabuli peserta yang mewakili provinsi Papua, aksen timur yang khas sangat kental ketika berkomunikasi bersama peserta yang lain.

Begitu pula salah seorang peserta yang mewakili provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Fathul yang menggunakan akses khas Makassar, seperti contohnya kata "kita" untuk sebagian besar tentu mengartikan kata itu adalah panggilan untuk semua, namun di Makassar kata "kita'" adalah kata ganti untuk kamu. Kata  "kita’" adalah bentuk kata teguran yang sopan kepada seseorang. Perbedaan yang mendasar ini menjadi bukti bahwa Indonesia sangat beragam. Untuk sebuah aksen bahasa pun kami berbeda, namun yang terpenting ialah maksud dan tujuan kami sama. 34 Pelajar/Mahasiswa dan 34 Blogger yang datang dari seluruh Indonesia menjadi semangat bagi pemuda Indonesia.  

Kebhinekaan tergambar jelas dalam Writingthon Asian Games ini, segala mimpi dari setiap perwakilan provinsi akan diwujudkan di mulai dari sini. Writingthon untuk bangsa!

5. Tantangan berburu hadiah seru


Siapa, sih, yang nggak suka dapat hadiah? Sesi kompetisi langsung berhasil membuat adrenalin kami  naik. Iming-iming hadiah gadget membuat semangat kami memburu. Ah, panitia selalu punya cara untuk membuat acara seru.

Tantangan kali ini dibagi menjadi dua kategori, kategori individu dan kategori kelompok. Masing-masing peserta dituntut untuk menghasilkan postingan di blog dan juga aktif mengunggah postingan di social media. Tentu saja engagement menjadi nilai tambah selain kualitas tulisan atau caption yang mumpuni.

Kategori kelompok lebih seru lagi. Kami diminta untuk menulis secara kolaboratif. Kami digabungkan menjadi kelompok yang berisikan empat orang dan mulai brainstorming bersama.

Hadiahnya nggak main-main. Untuk Blogger ada handphone Samsung 7+ dan laptop ASUS untuk kategori pelajar/mahasiswa.

Semoga saja, tulisan kami ini menjadi pemenangnya. Yen menang kan dadi seneng banget.

6. Gegap gempita Opening Ceremony 

Sumber : tribun Palembang
Opening ceremony tersebut jelas akan lebih dinikmati jika dihadiri bersama teman-teman. Inilah mengapa kami, peserta Writingthon Asian Games 2018, merasa amat bersyukur dapat dipertemukan dengan teman-teman baru yang berasal dari seantero Indonesia. Sabang sampai Merauke, lengkap! 

Salah satu keuntungan terbesar dalam menjadi peserta Writingthon Asian Games 2018 adalah mendapatkan tiket nonton opening ceremony Asian Games 2018 secara gratis, tis, tis! Sebagai informasi, harga tiket opening ceremony Asian Games 2018 dipatok mulai dari Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) sampai Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah), lho! Awis, euy (red—mahal, nih).

Opening ceremony, yang digadang-gadang sebagai agenda Asian Games 2018 dengan prestis tertinggi, berhasil menarik perhatian banyak orang dengan banyaknya penyanyi terbaik Indonesia yang akan mengisi acara. Mulai dari GAC, Anji, sampai Via Vallen. Keren, kan!



Well, Writingthon Asian Games ini tidak sekedar menjadi apresiasi bagi kami pemenang kompetisi menulis. Kebersamaan dengan berbagai peserta, obrolan menyenangkan, tertawa bersama adalah pengalaman yang mahal harganya. Meski kami hanya berjumpa lima hari lamanya. Tanpa memandang kamu Andalas, kami Celebes, dia Java atau mereka Borneo. Kami memiliki satu rasa yang sama akan kebanggaan menjadi Bangsa Indonesia.




Berbeda bukan alasan untuk tak saling menopang

Tujuan cita dan harapan

(Bright as the Sun)





Tulisan ini di tulis oleh :

Firmansyah ( Banten)

Zahra Noor Eriza (Solo)

Fathkhul Khair Tabri ( Makasar)

Nur Azizah maharani ( Bandung)