Dokter Esti menambahkan, masyarakat masih rancu dalam membedakan HIV dan AIDS. Hal ini menciptakan persepsi bahwa orang dengan HIV sudah pasti terkena AIDS, dan orang dengan HIV tinggal menunggu waktu untuk meninggal.

 

“Ini yang salah kaprah di masyarakat. Orang dengan HIV masih bisa hidup normal dan mengejar mimpi mereka asal mendapat pengobatan yang cepat dan tepat. HIV tidak selalu berakhir dengan AIDS, namun orang dengan AIDS sudah pasti terserang virus HIV”, ujarnya.

 

Dokter Esti menambahkan, HIV adalah jenis virus (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Virus ini menyerang T cell, yang merupakan salah satu bagian dari sel darah putih yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh saat ada kuman patogen yang masuk ke dalam tubuh, termasuk virus dan penyakit. Bila T cell rusak, maka tubuh akan kehilangan kemampuan mengenali virus dan bakteri yang masuk ke dalam tubuh.

 

Sementara AIDS adalah kondisi yang timbul akibat rusaknya sistem pertahanan tubuh karena virus HIV. Sehingga, orang dengan AIDS adalah orang yang terserang virus HIV. Rentang waktu HIV berubah menjadi AIDS sangat relatif, tergantung treatment dan kecepatan penanganannya. Harapan hidup orang yang terinfeksi HIV bisa selayaknya orang normal bila ditangani dan mendapat pengobatan yang tepat.

 

Stigmatisasi

 

Stigmatisasi juga muncul karena hoax dan pemahaman masyarakat yang masih salah kaprah terkait HIV/AIDS. Beberapa stigma yang kerap muncul adalah virus ini diasosiasikan sebagai penyakit mereka yang berhubungan dengan sesama jenis. Padahal, menurut data yang dilansir Ditjen P2P, Kementrian Kesehatan pada Desember 2016 lalu, infeksi HIV dominan terjadi pada heteroseksual (4.672 laporan yang didapat), hubungan seksual sesama jenis (3.604 laporan), lain-lain (2.448 laporan), dan penggunaan narkoba dengan jarum suntik (360 laporan).

 

Sementara terkait dengan AIDS, jumlah kumulatif AIDS yang dilaporkan menurut jenis pekerjaan sampai dengan Juni 2016 menunjukkan Ibu Rumah Tangga justru paling banyak hidup dengan AIDS (11.655 orang), wiraswasta (10.565 orang), karyawan swasta (10.488 orang), dan pekerja seks justru lebih rendah (2.818 orang).

 

Dalam kasus ini, Ibu Rumah Tangga justru menjadi kelompok yang paling rentan terpapar virus ini karena perilaku seksual pasangannya.

 

Menurut yang sama, jumlah kumulatif penderita HIV di Indonesia sampai Juni 2016 sebanyak 208.920 orang, sedangkan total kumulatif kasus AIDS sebanyak 82.556 orang. Infeksi HIV paling banyak terjadi pada kelompok usia 25-49 tahun, dan kelompok usia 20-24 tahun.

 

ODHA dan ARV

 

ARV adalah obat yang dipakai untuk menghambat aktivitas virus HIV agar tubuh ODHA memiliki kesempatan untuk membangun sistem kekebalan. Bila sistem kekebalan tubuh ODHA baik maka mampu melawan infeksi yang datang sehingga mereka memiliki kualitas hidup yang baik dan harapan hidup yang panjang.

 

Dengan pengobatan dan kontrol yang baik dan benar maka sangat memungkinkan ODHA memiliki pasangan yang bukan ODHA dan tidak menularkan. Begitu juga ibu dengan ODHA bisa melahirkan anak yang tidak terinfeksi HIV.

 

“Sampai saat ini ARV masih disubsidi oleh Pemerintah. Hingga dapat diperoleh dengan gratis. Akses ARV pun bisa sampai ke tingkat Puskesmas. Diharapkan ke depan nanti semakin banyak ODHA yang mau

 

 

mengakses ARV ini. Pemerintah juga perlu menjaga ketersediaan ARV ini sampai ke pelosok”, tambah Dokter Esti.

 

Untuk mempermudah masyarakat mendapatkan informasi terkait kesehatan seksualnya, Institusi Angsamerah menyediakan fasilitas dan konsultasi bagi masyarakat. Mereka bisa datang ke Klinik Yayasan Angsamerah di daerah Panglima Polim Raya Jakarta dengan harga terjangkau karena biaya disubsidi oleh institusi Angsamerah, lembaga nasional dan pemerintah, lembaga donor internasional, hingga donor yang diberikan secara individu. Masyarakat juga bisa mengakses layanan kesehatan dan konsultasi di klinik Angsamerah, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta.