"Mba, anaknya 1 kan?"

"Sudah dua, Mba, wkwkwk"

"Masa? Saya kira baru 1. Satunya mana, Mba? Ga pernah disebut"

"Hehe iya, Mba. Sering ngomongin kakanya, adeknya masih jarang. Tapi sumpah anak saya dua, Mba"

***

Chat saya setengah tahun lalu dengan ketua komunitas blogger itu masih saya ingat sampai sekarang. Anak saya dua, tapi terlihat seperti hanya punya satu karena saya hampir tidak pernah bercerita tentang nya di grup atau di status medos selama saya bergabung di komunitas blogger itu. Jadi, saya sangat maklum teman saya menyangka saya hanya punya satu anak. 

"Kenapa ga pernah diekspos, Mba?"

"Nanti aja, nunggu dia sudah 2 tahun atau 3 tahun, Mba. Hehe"

"Kenapa nunggu dia 2 tahun, Mba???"

***

Mungkin ada yang bertanya kenapa saya terkesan menyembunyikan anak kedua saya, beberapa bulan lalu, sedangkan mama-mama di seluruh penjuru dunia justru sedang bangganya meng-upload foto-foto kegiatan anak mereka di medsos. 

Bukan apa-apa. Saya tidak menyembunyikan dia, saya hanya ingin mempersiapkan hati saya tentang sesuatu. Sesuatu yang hanya para orangtua dengan special-need kids saja yang paham. 

Anak saya termasuk special-need kids??? 



Namanya Hanzo, lengkapnya Hanzo Dzikri Hamizan. Anak kedua saya yang lahir dengan normal induksi, di"paksa" keluar karena ketuban saya sudah tidak sehat lagi untuknya, padahal jika tidak dipaksa bisa jadi hari lahirnya akan sama dengan ayahnya. 

Oh iya, namanya yang terdengar jejepangan itu ide sang ayah juga yang merupakan pecinta anime, haha. Saya mau protes kala itu karena saya belum tau sejarah nama itu. Jangan jangan reputasinya jelek? Duh, bagaimanalah saya menelusurinya, sedang saya ga suka sama sekali dengan anime. 

Tidak seperti anak pertama yang namanya sudah saya koar-koarkan sejak dia masih berupa janin sebesar kacang tanah, anak kedua ini bahkan menyebut inisialnya saja saya sudah ga percaya diri sebelum tasmiyah digelar.

Apa? Hanzo? Bagaimana kalo ternyata dia nama dari samurai pembunuh? Astaga, seram sekali. 

Hingga suatu hari.... 

"Mba, nama adiknya Muthia siapa? H itu apa? Oooh, Hanzo. Mba ga tau kah Hanzo tu apa? Hanzo itu yang di naruto, hehe. Itu sebenarnya ada sejarahnya lainnya, Mba. Jadi, dulu itu ada samurai yang dia muallaf. Oleh ayahnya diberi nama Hanzo, dari nama sahabat, Hanzalah. Mba tau kan Hanzalah?"

Seorang teman baik saya di kota perantauan ini baru saja memberi saya informasi yang membuat saya bingung sekaligus....yah, cukup membuat saya menghembus nafas lega. 

Saat itu saya tidak kenal Hanzalah. Saya hanya ingat cerita tentang sahabat Rasullullah saw yang baru saja menikah dan mati syahid dalam keadaan belum sempat mandi junub karena panggilan perang lebih dulu menggema. 

Kemudian dia melanjutkan, 

"Nama anaknya temen-temenku yang lagi studi di Eropa juga Hanzalah, dipanggilnya ya Hanzo juga, supaya lebih ringkas". 

Benar-benar saya baru tau fakta tentang calon nama anak sendiri. 

Memang 9 bulan di dalam perut, mamaknya kemana?? Ga disiapin apa namanya? 

Ga, sama sekali saya ga menyiapkan. Kehamilan kedua benar-benar berbeda dengan yang pertama, yang segalanya disiapkan dengan rasa excited yang membuncah. Kehamilan kedua saya justru sedang dilanda stress - yang kemudian memicu depresi paska lahir (sudah pernah saya ceritakan di blog). 

Balik lagi ke masalah nama. Bukan hanya saya yang keberatan dengan nama itu, mama saya juga, maunya beliau nama yang lebih Islami karena bukankah nama adalah doa? Saya juga maunya nama itu diganti karena suami tidak kunjung memberi alasan yang lebih rasional dibalik nama itu selain karena dia sangat-suka-Jepang. 

Bersyukur di detik-detik terakhir sebelum tasmiyah teman saya itu memberi tahu hal lain. Saya pun menambahkan 2 nama di belakangnya, Dzikri Hamizan. 

Hanzo, yang tidak lain berarti pemimpin yang berani, saya sandingkan dengan Dzikri, yang bermakna selalu ingat Alloh di mana saja kapan saja, dan dipermanis dengan Hamizan yang artinya tampan cerdas. 

Akhirnya setelah saya jelaskan ke mama makna nama cucu keduanya, beliau akhirnya menerima. Saya bisa merasakan hembusan nafas lega tipis dari nafasnya. Makasih, Ma, sudah percayakan saya memberi nama cucumu....

Dan sekarang usianya sudah 2 tahun lebih 15 hari, saya ingin memulai menuliskan perjalanannya sekarang.

***

“Aku benar-benar melihat malaikat sedang memandikan Hanzhalah di antara langit dan bumi dengan air dari awan dalam sebuah tempat besar terbuat dari perak.”
(Sahabat Urwah ra dengan kesaksiannya tentang kesyahidan Hanzhalah di perang Uhud)