11 September 2017.
Tuhan masih mengizinkan matahari tersenyum pada satu orang yang sedang berbahagia pada hari ini, tepatnya.

Selamat pagi!
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala, udara segar pagi ini masih bisa kuhirup. Udara yang tenang menenangkan dan sejuk meyejukkan jiwa maupun raga. Udara pagi kali ini sukses membuatku terjaga. Biasanya, aku bangun jam 10 pagi bahkan jam 12 siang setelah solat subuh. Makhluk Tuhan seperti akukah yang harus didustakan?

Pemandangan diluar jendela sama seperti hari-hari biasanya. Beberapa orang mengenakan seragam sekolah, seragam kantoran, baju kasual dengan balutan ekspresi wajah yang berbeda-beda pula. Ada yang gembira kayak abis menang arisan,  ada yang murung, ada yang tiis aja, ada juga yang kayak keduruk (perasaannya, bukan mukanya). Semua itu mereka lakukan tak lain untuk kebaikan dunia akhirat masing-masing. Yah, jadi kangen sekolah L

Suasana dirumah pun hampir sama. Ibu sudah siap untuk pergi ke sekolah, sementara bapak masih duduk-duduk dengan kopi ditangan kanannya. Gak diminum, dipegang aja. Hehe. Meh naon?

Enggak kok, bapak pasti minum kopinya. Bapak adalah salah satu pecinta kopi dengan tambahan gula dua sendok makan yang sudah seperti menjadi keharusan. Mau pergi ngantor, ngopi. Pulang ngantor, ngopi lagi. Mau tidur, ngopi juga. Yagitulah, mungkin bapak gak ngerasa dirinya manis.

Ketika aku melihat keduanya pergi mencari anak angkat yang soleh nafkah, aku hanya bisa melihat mereka dibalik jendela. Do’aku selalu mengudara seiring dengan kepergian mereka.. Ya Allah, berkahilah umur keduanya, sehatkan jiwa raganya, ampunkan dosa-dosanya, dan jadikanlah aku anak Indonesia yang sehat dan kuat. Aamiin.

Tinggalah kami berdua di rumah. Aku dan dede.
Lalu aku pergi ke kamarnya dan ternyata dia masih tidur. Mimpi indahnya nyaris membuat ia lupa akan dunia yang sesungguhnya. Terlalu larut dalam kebahagiaan. Tersenyum pulas.

Jauh menerawang ke alam bawah sadarnya, membawa akal sehatku menerjang kembali tahun 2003, dimana aku cepat-cepat pulang ke rumah, berlari menuju ke kamar, dan..melihat bayi kecil mungil yang gagah, tapi sedikit terbalut wajah borangan, sedang dipangku oleh ibuku.
Pada tanggal 11 September  2003, tepatnya 14 tahun  silam, Mukti Makuta Wibawa lahir. Aku gagal menjadi princess ayah satu-satunya. Sedih-sedih bahagia.
Kucubit pipinya, kucium-cium pula wajahnya, ku pangku diaaa..dan ada satu hal yang membuatku merasa ‘terkesan’. Dia sama sekali tidak mirip denganku. HA! Bersyukur, karena aku risih saja jika ada orang yang mirip denganku, lagipula siapa juga yang pengen punya kloningan? Ajeng Pawestri versi millenium. Kan gak banget.

Kembali ke dunia nyata..
Manusia yang berulang tahun itu ke 14 itu masih tertidur pulas, jadi aku biarkan saja, toh untuk apa dibangunin kalau hanya sekedar untuk mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’.

Btw, kami sekeluarga sudah mengucapkan sehari sebelumnya. Yaaah..hanya sekedar ucapan, dan harapan, tidak ada balon, tidak ada kue, tidak ada teman-teman, apalagi pacar. Dan pada saat itu juga, kami saling melempar senyum dan bercanda ringan. Yah, sesederhana itu.

Meskipun ulang tahunmu tidak dirayakan, tapi kami menaruh banyak harapan baik untukmu. Pada hari bahagiamu ini, kamu adalah orang yang paling kami ‘semoga’kan. 
Aku, sebagai teteh yang nyaris terjebak cinta yang salah, pastinya ingin yang terbaik untukmu. Semoga kelak kamu menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, manusia yang taat pada Tuhan, dan menjadi manusia millennial kebanggaan ibu bapak.

Teteh harap kamu bisa tumbuh dewasa di lingkungan yang sudah tidak bersahabat seperti ini. Teteh tidak mau kamu salah pergaulan. Miris saja, banyak abg seusiamu yang terang-terangan merokok. Pake seragam sekolah pula! Teteh tidak mau kamu seperti itu. Tolong, ya.

11 September 2017 menjadi hari spesialmu, bahkan 'kami' pun turut berbahagia. Tak percaya?
Bangunlah, dek. Lihat! Matahari tersenyum, menyapa kabar usiamu…
Sudah sejauh manakah kamu berbakti untuk semesta?

Gambar 1. Foto ini diambil tahun 2015. Watirnya keur makan jol diabadikan.