Hanya ingin bercerita sedikit, kurang lebih peristiwa ini terjadi 3 tahun silam. Sedikit sadis, memang.

Siang hari itu, cuaca sangat tidak bersahabat. Mendung, padahal, hari ini aku berniat untuk pergi ke dokter.
Nyeri beuteung.

Sakit yang kuderita ini sudah lama berdiri sejak nyonya Meneer nyieun sari pohaci. Garing.
Sakit yang membuatku selalu gelisah, makan menjadi tidak berselera, mual, bahkan dada yang selalu sesak. Aaah, sakitnya tuh disitu.

GERD. Penyakit asam lambung.

Akhirnya, aku pergi ke rumah sakit terdekat. Oh iya, pada saat itu lagi bulan ramadhan, so aku berniat menemui dokter umum karena dokter spesialis pasti lagi pada libur. Pasti. Kesoktauan yang hakiki.

But, that was totally trueeee.
Disana hanya ada dokter umum. Karena disana tidak ada antrean, jadi aku gak perlu mengantre untuk daftar sbg penderita GERD yang loba gaya.
Aaah, lega rasanya bisa sampai secepat ini, ditambah lagi tidak ada antrean. Biasanya, rumah sakit ini sesak dengan pasien dengan berbagai macam keluhan.
Bertemulah aku dengannya, dokter ibuk-ibuk pake kerudung oren (inget pisan).<br>
Sambil diperiksa, beliau menanyakan keluhan apa saja yang kerasa, sejak kapan GERD ini kambuh, dan kenapa kamu jomblo (heureuy), dan aku menjawab seadanya.
Beres.

Tibalah pemberian resep. Situasi ini agak mengganggu sebenarnya. To the point..
“Biasanya pake obat apa aja?”
Dokternya bertanya seperti itu, dan harusnya aku pergi ke THT aja tadi..
gak salah denger?
Pertanyaan yang common sih, yasudah aku jawab apa adanya.
“Pake obat A,b,c,d,z".
Beliau menulis apa yang baru saja kuucapkan 5 detik yang lalu.
Persis.

Oke, disini, aku memang tidak terlalu paham dengan prosedur pemberian resep, apakah memang selalu seperti itu atau gimana? Iya gitu weh ditulis.

Iya sih emang betul ditulis. Maksudku, dokter bisa saja memberikan resep yang sama, tapi bisa juga berbeda tergantung dengan keluhan dan yang lain-lainnya. Disini, keluhanku sedikit berbeda karena aku merasakan sakit perut yang tidak seperti biasanya, dan aku insomnia parah. Akhirnya aku bertanya, apakah obat-obat itu bisa juga untuk keluhan yang berbeda? Dokternya ga ngewaro.

Kalopun memang seperti itu, yasudahlah. Hanya dokter yang tau.<br>
Pada saat itu aku hanya berharap badai datang menghujam. Tapi sayang, badai pasti berlalu kan yah, hheu.

Akhirnya aku pulang dengan perasaan ‘Nyaho kitu mah urang meuli di apotek’,
Bete.

Suasana mendung saat itu melengkapi kebeteanku, alhasil sepanjang perjalanan aku hanya diam. Biasanya juga emang diem, sih.

Tapi aku bersyukur..
Kejadian hari ini tidak menimbulkan masalah serius karena aku gak bilang,
“Bu, saya biasanya minum obat Kalpanax dicampur teh pucuk”.

Rightly so.