Setiap ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, termasuk saya. Setelah punya anak pertama setahun lalu, saya semakin aktif mencari ilmu.  Beruntung saya jadi seorang ibu di zaman dimana teknologi sudah semakin canggih. Mau cari informasi apa saja tinggal scroll-scroll and click. Salah satunya yang saya lakukan adalah bergabung di grup-grup ibu-ibu yang punya anak untuk berbagi ilmu seputar menyusui, MPASI, tumbuh kembang, dan sebagainya di media sosial. 

Waktu itu saya berharap bisa dapat banyak ilmu dan bisa juga berbagi sedikit ilmu yang saya punya. Nah, suatu hari di grup tentang menyusui ada seorang ibu yang curhat kalau anaknya menyusu dengan cukup "ganas" sehingga kedua putingnya lecet dan berdarah. Dia cerita kalau sementara menunggu putingnya sembuh, dia memberikan ASIP lewat dot. Tapi dia takut kalau keterusan nanti anaknya malah bingung puting.  Jadi dia minta pendapat di grup tersebut apa yang harus dia lakukan?

Saya langsung komentar menyarankan sebuah merk dot, karena anak saya pakai dot itu alhamdulillah nggak bingung puting. Sebelum saya beli dot itu saya cari testimoninya pun banyak yang bilang kalau anaknya pakai itu nggak bikin bingput. Jujur waktu itu saya cuma niat untuk membantu. Saya juga busui, tahu banget rasa sakitnya saat anak terlalu aktif menyusui sampai gigi-gigit. 

Tapi tahu apa yang saya dapatkan ketika saya ikut berkomentar di grup tersebut?

Ramai-ramai ibu-ibu lain membully bahwa saya memberikan dampak yang buruk karena menyarankan dot. Malah saya disuruh tanggung jawab dan bayarin dokter kalau anak ibu itu sampai bingung puting karena mengikuti saran saya. 

Pas baca itu saya kayak yang diam, shock, speechless, mau nangis, mata sudah berkaca-kaca. 



Sempat saya balas kalau saya juga tahu kok bahwa dot memang bisa beresiko bikin bingung puting. saya sudah nonton video-video dr.Tiwi di Youtube. Namun saya balik lagi ke keadaan dimana saya sudah mencoba memberikan ASIP ke anak saya pakai media lain selain dot, tapi justru dia susah minumnya. Sedangkan saya harus kerja, daripada saya kepikiran terus jadi saya belikan dot. 

Alhamdulillah anaknya mau, nggak bingung puting karena memang saya kasih dot hanya sebatas saya kerja jam 08.00-15.00 WIB selebihnya ya direct breastfeeding

Cuma tetap aja saya terpojok sama ibu-ibu itu, karena saya memberikan saran nggak sesuai dengan teori yang benar katanya. 

Saya jarang nimbrung di grup, sekalinya saya ikut memberi saran dengan niat membantu malah dibully. Saya putuskan langsung keluar dari grup itu. Saya sempat galau berhari-hari. Saya berpikir apakah saya ini ibu yang jahat karena meninggalkan anak untuk bekerja dan akhirnya anak harus minum ASIP dari dot?

Untungnya suami saya support dan menghibur. Semenjak itu saya selektif lagi memilih grup, saya pilih dimana anggotanya tidak gampang memojokkan. Tapi dampak lainnya saya jadi nggak berani bersuara. Saya takut hal yang sama terulang. Bahkan saya dulunya sudah bikin draft blog + video untuk review dot yang nggak bikin Mukhlas bingung puting itu, tapi saya hapus karena takut disalahkan lagi. 

Namun seiring berjalannya waktu saya coba untuk memahami bahwa kita boleh idealis tapi realistis. Artinya sebagai ibu memang kita wajib belajar teori-teori parenting, tapi dalam penerapannya ya sesuaikan dengan keadaan. 

Contoh dari pengalaman saya, anak nggak mau minum ASIP pakai sendok atau gelas? ya belikan dot daripada nggak ada asupan yang masuk. Pengennya anak makan makanan dengan bahan organik? kalau lagi awal bulan saya belikan. Kalau lagi mepet uangnya, ya pakai bahan biasa. Pengennya anak makan selalu duduk? saya coba biasakan dan selalu sounding tapi kalau dia benar-benar lagi aktif berdiri dan berjalan ya sudah makannya sambil main. 

Saya sadar bahwa awal-awal jadi ibu mungkin saya ingin terlihat sempurna. Saya ingin menerapkan teori yang baik dan benar dalam mendidik anak. Tapi pada kenyataannya hidup nggak semulus pipi Song hye kyo. 

itu pipi apa gelas kaca, neng? mulus bener.

Jadi ibu itu memang indah, tapi menjalankannya nggak selalu mudah. 

Seringkali kita lihat ibu-ibu di Instagram terlihat sempurna, bikin MPASI rumahan dengan empat bintang, lima bintang udah kayak hotel. Anaknya kalau makan selalu duduk, anaknya nggak pernah nolak makanan, dan hal-hal lain yang bikin kita bergumam dalam hati "kok dia sempurna banget sih? nggak kayak kita yang pontang panting belajar masak, eh pas disuguhin anaknya melengos doang" sakit tapi nggak berdarah. 

Padahal kalau mau berpikir lebih jauh, media sosial itu tidak menyajikan 24 jam kehidupan seseorang dengan sebenarnya. Siapa tahu yang dia pilih untuk diupload yang indah-indah doang. Misal di insta story yang cuma bisa durasi video 15 detik anaknya terlihat makan dengan lahap, kita nggak tahu kan di detik ke 16 anaknya lempar makanan? di detik ke 18 anaknya banting piring ke lantai? di detik ke 22 emaknya ngurut dada sambil mungutin makanan di lantai. *curcol buuuu?*

Makanya saya senang banget pas ketemu buku parenting yang kayaknya "ini mah gue banget, aah akhirnya ada yang samaan. I am not alone". Judul bukunya "Indahnya Susahnya Jadi Ibu". Buku ini ditulis dua mom blogger Indonesia. Mungkin juga sudah ada yang jadi pembaca setia blog mereka, yaitu mba Grace Melia dan mba Annisa Steviani. 



Saya sendiri lebih akrab dengan tulisan-tulisan mba Gesi, karena saya suka postingannya yang apa adanya. Kita diajak kayak jadi temennya dia untuk dengarin kisah-kisah hidupnya meski kita belum pernah kenal sebelumnya. Makanya pas lihat di Instagramnya kalau dia bikin buku, saya sudah niat mau beli. Bela-belain deh order online karena disini nggak ada toko buku. 


Kesan pertama pas bukunya sampe "covernya cute banget" dengan warna pinky girly. Dari covernya aja sudah bisa ditebak buku ini bukan buku serius yang bikin tegang bacanya. Bikin nggak sabar untuk baca. 

Saya lahap habis bukunya cuma dalam sehari. Itupun karena emak-emak disela ngurus anak, kalau nggak mah dua jam harusnya juga bisa kelar. Kesan saya setelah baca? "Thankyou mba Gesi sudah nulis buku ini, hilang sudah rasa bersalah saya yang dulu karena insiden dot itu".

Baru kali ini saya temukan buku parenting yang buka-bukaan tentang gimana keadaan jadi ibu. Mulai dari fase kehamilan sampai memilih daycare  anak. Cerita mereka tentu dekat dengan cerita kita, ibu-ibu lainnya yang berusaha terbaik untuk anak namun memang kita nggak bisa sempurna dengan latar belakang dan keadaan masing-masing. 

Buku ini ditulis dua orang. Mba Gesi sebagai Stay at home mom, dan mba Anisa sebagai working mom, maka mereka memberikan sudut pandang masing-masing sehingga saling melengkapi.


Buku ini bagus banget untuk yang sudah punya anak, untuk yang baru hamil atau merencanakan kehamilan, untuk yang masih gadis juga bagus untuk menambah wawasan dan nggak kaget menghadapi kenyataan, wkwkw. Untuk yang nggak hobi membacapun, jangan khawatir karena buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan gaul. Full ilustrasi sehingga nggak bakalan bikin cepat bosan. 




Karena saya suka banget buku ini, maka saya mau bagikan dua buku ini untuk pembaca blog DudukPalingDepan. Syaratnya gampang, kok. Yang susah itu nebak anak mau makan apa hari ini. 

❤️ Follow Instagram @dudukpalingdepan atau twitter @du2kpalingdepan (pilih salah satu)
❤️ Kasih komentar menarik  yang berkaitan dengan postingan ini. 
❤️ Jangan lupa Sertakan id IG atau Twitter, jadi bisa saya mention jika menang. 
❤️ Berlangsung sampai tanggal 27 Juli 2018
❤️ Pengumuman 28 Juli 2018


CLOSED. PENGUMUMAN SUDAH DILAKUKAN DI INSTAGRAM STORY @DUDUKPALINGDEPAN.

Bagi yang belum menang jangan berkecil hati, tunggu Giveaway berikutnya ya. 

Oh ya, yang belum menikah atau laki-lakipun boleh ikut postingan ini ya, siapa tahu mau dihadiahkan ke orang terdekatnya. 
***

Pada akhirnya kita harus berdamai dengan diri sendiri bahwa nggak ada manusia yang sempurna. Kita nggak perlu membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain kalau pada akhirnya hanya menimbukan iri hati, bukan motivasi. Kita nggak perlu menyalahkan ibu lain yang prinsip dan gaya parentingnya berbeda. Kita hanya perlu melakukan yang terbaik untuk anak kita, dan saling mendukung ibu lainnya dengan cara yang baik pula. 

Salam,
Enny Luthfiani.
Seorang ibu yang kalau mau bikin MPASI mesti contek resep dari #hastag di IG.