Mungkin yang sudah sering berkunjung kesini tahu kalau saya adalah seorang petugas Lapas. Bagi saya selalu ada sisi menarik yang ingin diceritakan dibanding hanya membahas tentang kejahatan yang sudah mereka lakukan. Salah satu hal yang sering menggelitik bagi saya adalah kisah cinta orang-orang di dalam Lapas ini. Aduhaaai, kalau produser Indosi*r tahu mungkin bisa dibikinin FTV dengan judul panjang dan nggak nyambung itu. 

Dulu saya pernah tugas di Lapas Wanita dan waktu itu tugas saya lagi jaga di ruang kunjungan. Nah perlu diketahui juga waktu saya masih single, belum nikah dan nggak punya pacar pula. Sedangkan yang sedang saya awasi ini suami-istri gitu. Warga binaannya yang perempuan, dengan kasus pembunuhan suaminya sendiri. Jadi yang berkunjung waktu itu suami barunya. 

Dalam hati saya, tuh cowok nggak takut apa ya bernasib sama dengan almarhum suami pertama istrinya. Ngeri aja gitu kan, pas bikin salah sedikit, eh besok pagi suaminya sunat lagi. Hiyyy. Tapi ya udahlah ya urusan rumah tangga orang ini. 

Ruang kunjungannya disana ada meja panjang dan dua kursi panjang berhadapan. Jadi antara pengunjung dan warga binaan duduknya harus hadap-hadapan nggak boleh sebelahan. Kenapa? karena dulu sebelum diatur begitu, wadaaaw banyak pemandangan 18++. 

Misalnya nih warga binaan dikunjungin pacar atau suaminya dan duduk sebelahan, mereka berusaha  "main congklak" di bawah meja. Awalnya sih ngobrol biasa, lama-lama geseran dikit makin mepet, lama-lama pegangan tangan, lamaan dikit tangan cowok udah pindah ke paha cewek, lamaan  lagi udah........ ah nggak usah dibayangin. 

Daripada petugas capek negurnya, lebih baik dibikin aturan duduk berhadapan. 

Nah balik lagi ke pasangan suami istri yang saya awasi tadi. Selama kunjungan mereka ngobrol biasa, makan bareng, ya normal-normal aja sih. Cuma pas mau pulang, suaminya kan pamit. Sebagaimana istri pada umumnya, ya istrinya salim cium tangan lalu mereka cipika-cipiki. Ya udah sih masih wajar lah ya, saya juga sering ngelihat mama papa saya kalau mau pamit kayak gitu. 

Eh nggak tahunya mereka lanjut ciuman bibir. Iya bener, ciuman bibir beberapa kali di ruangan kunjungan di depan saya. Saya langsung nelan ludah beberapa kali. Kalau itu terjadi sekarang mungkin saya akan biasa aja karena saya sudah menikah. Tapi dulu itu statusnya saya masih kinyis-kinyis. Agak shock melihat adegan hot di depan mata *kipas mana kipas*. 


Setelah suaminya pergi saya tegur dong si warga binaan itu. 

"Mbak gimana sih, walau suami istri masak ciuman di depan umum. Di depan saya lagi. Saya kan belum nikah."

"Hehe, maaf ya bu namanya juga suami istri terpisah gini."

"Ya udah lain kali lihat-lihat sikon dong. Eh ngomong-ngomong, hukuman mba kan masih lama. Jadi gimana tuh suami?"

For your information, yang saya ceritakan ini kasusnya pembunuhan berencana dan dia adalah "otak" dari kejadian pembunuhannya. Jadi dia kena vonis masa pidana selama 20 tahun dan waktu itu baru jalan sekitar 2-3 tahun. Anggaplah ya nanti dia dapat remisi dan bebas dengan cuti bersyarat. Kemungkinan bisa menjalankan pidana 15 tahun lah. Tapi kan masih lama juga tuh, emangnya suaminya yang sekarang tahan "puasa" belasan tahun? itu sih yang bikin saya kepo. 

"Dia janji setia kok bu. Rajin ngunjungin, rajin telponan (ada wartel di lapas)"

"Ya itu kan kata dia, mba. Kalau sampai dia ada main di luar gimana?"

"Nggak bisa bu, nggak boleh. Saya nggak rela dikhianatin pokoknya"

Hm..........mengingat kasusnya adalah pembunuhan, saya nggak mau lanjutin percakapan. Tapi saya sulit percaya kalau laki-laki yang sudah dewasa dan sudah menikah bakalan tahan "puasa" bertahun-tahun. Gimanapun juga burung yang terbang butuh dahan untuk bertengger, hehe.


Nah sekarang saya sudah menikah dan sudah pindah ke lapas lain juga. Tempat yang sekarang itu lapas dewasa yang dominan warga binaannya adalah pria. Kebanyakan juga pria yang sudah beristri. Disini lebih banyak adegan romansa yang bikin geleng-geleng kepala. Hanya saja sekarang saya nggak perlu nelan ludah lagi

Disini ruang kunjungannya itu nggak pakai meja tapi lesehan gitu. Ada semacam kayak saung besar lah. Sehingga antara pengunjung dan warga binaan nggak duduk hadap-hadapan tapi terserah mereka aja mau duduk sebelahan, hadap-hadapan, atau duduk melingkar.

Karena suasananya terkesan santai jadi mereka kayak sering lupa kalau ini tuh lapas, bukan taman rekreasi. Meskipun saya sudah nggak bertugas mengawasi ruang kunjungan, tapi ruang kunjungan disini itu pasti saya lewatin kalau mau kemana aja. Mau ke kantin atau ke ruang kalapas, karena posisinya di tengah-tengah udah pasti kelihatan lah. 

Mau nggak mau mata kadang nggak sengaja melihat pasangan yang ngobrol-ngobrol, ketawa-ketawa, mata beradu, si laki-laki nanti cubit hidung perempuan, benerin jilbabnya, elus pipinya. Dih geli. Ada juga nih yang kadang lupa daratan sampai tiduran di pangkuan si cewek yang katanya sih istrinya ya. 
Buseeet udah kayak di pantai aja, cuy. Serasa dunia milik berdua, yang lain cuma lalat numpang lewat. 

Bahkan nih suatu hari ada ibu-ibu muda yang nyamperin saya dan nanya kayak gini. 

"Bu, disini tuh ada ruang khusus untuk suami istri?"

"Haa maksudnya? untuk berhubungan suami istri gitu?"

"iya, bu."

"Dih, nggak ada lah. Jangan aneh-aneh deh. Doain aja suaminya cepat keluar, jangan bandel-bandel jadi nggak masuk kesini lagi"

"Bukan untuk saya, bu. Tapi tadi saya lihat ada yang ciuman, mungkin suami istri."

"Haa di tempat rame begitu?"

"Iya, tapi pura-puranya istrinya benerin jilbab, trus suaminya nyosor di balik jilbab"

"Buseeet, lagian mba ngapain merhatiin orang?"

"Ya lumayan bu, tontonan gratis"



Kalau dibilang sudah ditegur, ya pasti sudah ditegur. Tapi gimana ya, ngatur orang dewasa apalagi dengan latar belakang yang beragam nggak semudah ngatur anak SD untuk duduk diam di bangkunya masing-masing. 

Kita meleng dikit ya dia beraksi. Alasannya ya namanya suami istri wajar kayak begitu. 

Sebenarnya saya sedikit maklum, apalagi saya sudah menikah. Jadi tahu banget bahwa nafkah batin itu sudah kayak kebutuhan antara suami dan istri. Karena harus terpisah jeruji bertahun-tahun, tentu gelora itu harus ditahan dan cara penyalurannya ya curi-curi sedikit diwaktu kunjungan. 

Cuma nih yang jadi pertanyaan saya, waktu dulu masih di luar beneran seromantis itu nggak? duduk berdua, bertatap mesra, pegangan tangan, suap-suapan, sampai nggak ngelihat anak udah kecebur kolam. 

Hadeeeeeeh. 

Makanya manfaatkan waktu bersama orang yang disayang selagi bisa, dan jangan sia-siakan kebersamaan itu. Orang yang nggak pikir panjang melanggar hukum pasti akan menyesal. Karena yang paling berat itu bukan harus tidur di lapas dengan fasilitas seadanya tapi harus berpisah dengan orang-orang tercinta. 


Baca Juga :