Ada artis digosipin pelakor? dibully rame-rame. Ada transgender katanya laki tapi ngaku perempuan? dihina rame-rame. Ada artis Tiktok aslinya lebih hitam daripada di video? dicaci rame-rame. Masih banyak lagi berita yang mencuat kemudian warganet rame-rame ngebully dengan cacian dan hinaan. 

Saya nggak habis pikir kenapa banyak masyarakat Indonesia pengguna media sosial pikirannya bisa secetek itu. Kenapa kita harus menyuarakan ketidaksukaan terhadap sesuatu dengan hinaan dan makian? kritis boleh, ngebully jangan. Berpendapat boleh, menghina jangan. Tapi mungkin bagi mereka sudah tidak ada batas antara beropini dengan menyakiti hati orang lain. 

Saya pribadi kalau nggak suka sesuatu sebisa mungkin dihindari. Apalagi kalau di media sosial sangat mudah, ada fitur block maka kita nggak bisa lagi lihat postingan orang tersebut. Selesai perkara. Kalaupun sebagai manusia biasa saya masih ada rasa kepo dan nyinyir ya cukup membatin di dalam hati. 

"Resiko dong jadi publik figur, kalau nggak mau dikomentarin macam-macam ya jangan jadi artis"

Status publik figur yang melekat pada seseorang bukan berarti menghalalkan kita untuk menghinanya, mencaci maki dirinya dan keluarganya. Komentar di atas nggak masuk di logika saya. Lebih masuk akal kalau kita nggak suka sama seorang public figur ya nggak usah follow medsosnya, nggak usah tonton atau dengar karyanya. Semudah itu. 

"Makanya jadi artis tu harus jaga attitude. Salah sendiri kenapa kelakuannya begitu"

Publik figur itu juga manusia biasa. Ada dua sisi di dalam dirinya, baik dan buruk. Saya berusaha menyukai publik figur karena karyanya, urusan pribadi dia ya terserah dia lah mau apa. Nggak ada dampaknya kan di hidup kita dia mau pacaran sama siapa, mau nikah sama siapa. Lagipula kenapa kita sibuk menilai kesalahan orang lain? semacam nggak sadar bahwa diri sendiri juga pasti banyak dosa. 

"Media sosial diciptakan ada kolom komentar ya buat komentar, jadi suka-suka dong mau komentar apa"

Mulut diciptakan Allah untuk berbicara yang baik-baik, begitu juga dengan jari tanganmu. Bukan medianya yang salah, otak lu kudu dibenerin. 

Terakhir viral si Bowo, anak kecil yang katanya populer di aplikasi Tik Tok. Beberapa waktu lalu dia mengadakan meet n greet, katanya pas fansnya ketemu langsung dengan si Bowo ini mereka kaget karena ternyata dia nggak seganteng dan seimut divideo-videonya. Belum lagi harga tiket meet n greetnya yang mahal. Karena itulah, dia dibully warganet habis-habisan. Mulai dari nama kelamin sampai nama binatang ada di kolom komentar instagramnya.

Si Bowo atau siapapun di luar sana, anak kecil itu masih butuh bimbingan bukan hujatan. Pernah nggak mikir gimana kalau dia jadi malu, tertekan, depresi. Namanya anak-anak nggak pikir panjang, gimana kalau dia sampai bunuh diri? Orang yang bunuh diri karena dibully terus-terusan itu banyak. Jangan sampai satu kalimat kita bisa jadi penghantar orang lain meregang nyawa. 

Sebagai orang tua, saya miris. Kebayang kelak kalau anak saya mencoba berkarya di media sosial terus hasilnya belum bagus kemudian dicaci-caci orang lain. Wah kalau saya sih langsung ke kantor polisi laporin mereka dengan pasal UU ITE *esmosi bundaaa*. 

Kalau memang prihatin dengan kebanyakan anak-anak yang lebih sering main tiktok daripada belajar, kenapa nggak mulai dari lingkungan sekitar. Entah itu anak/adik/sepupu/ponakan, ajarkan mereka permainan atau aplikasi yang lebih bermanfaat. Bisa juga dengan ikut memviralkan anak-anak yang berprestasi.

Kadang anak-anak Tik tok itu nggak bermaksud membuat dirinya viral, akun-akun lucu-lucuan itulah yang merepost sehingga mengundang banyak orang untuk membully. 

Semoga kita tidak menjadi generasi yang latah menindas. Ikut-ikutan supaya nggak dibilang ketinggalan zaman. Tanpa memikirkan setiap orang punya perasaan. 

Sepakat?