Lebaran sebentar lagi, sudah pada terima THR belum? kalau saya sih sudah dari seminggu lalu dapat jadwal THR (Tugas Hari Raya) karena Lapas meski lebaran tetap buka. Tapi kali ini saya mau bahas pertanyaan yang mungkin akan jadi momok saat lebaran tiba nanti. Dimana keluarga besar pada kumpul, pasti ada sih yang bakal nanyain pertanyaan yang bikin enak atau bikin eneg, hehe. 

Salah satunya adalah pertanyaan "Kapan Nikah?"


Dulu tahun 2015 saya pernah bikin postingan tentang "Kapan Nikah?" juga disini. Tapi waktu itu status saya masih single jadi saya sering jawabnya ngaco atau ngeles aja gitu. Nah karena sekarang saya sudah nikah dan punya anak, saya mau kasih tips dari sudut yang berbeda. 


Pada dasarnya kepo sudah jadi bagian sifat manusia yang tak terpisahkan dalam keseharian. Kepo ada yang positif dan ada yang negatif. Negatifnya kalau sudah sampai jadi sok tahu dan ikut campur urusan orang. Kita sendiri harus mengakui kadang juga penasaran kan sama kehidupan orang lain?

Jadi intinya kita nggak bisa mengatur mulut orang lain, tapi kita bisa mengatur hati dan emosi kita biar nggak gampang down kalau ada kalimat atau pertanyaan orang yang menjurus sama urusan pribadi kita. 


Caranya gimana? yaitu kamu harus tahu betul apa tujuan hidup kamu. 

Baca Juga : Life Goals

Menikah itu bukan cuma sekedar ganti status. Bukan cuma tentang akad dan resepsi. Bukan cuma soal update kemesraan di insta story. Lebih dari itu menikah adalah sebuah perjalanan panjang, dimana hanya takdir dan maut yang memisahkan. 

Jadi kita harus tahu betul apa kah kita sudah benar-benar ingin menikah? sudah benar-benar siap? kalau kita tahu bahwa kita belum mau dan belum siap, kenapa harus baper ketika ditanya kapan nikah?

Setiap orang latar belakangnya beda-beda. Ada yang nikah umur 19 tahun, ada yang nikah umur 22, ada yang nikah umur 30. Nikah itu nggak ada patokan atau standar umur, kan. 

Jadi meski kamu sudah berumur 26 tahun tapi memang kamu masih punya mimpi untuk fokus menyelesaikan S2 atau fokus merintis usaha sendiri, bisa jadi nikah bukan prioritas saat ini. 

Ketika pertanyaan "kapan nikah?" muncul, kamu bisa jawab bahwa masih ada prioritas lain dan minta dido'akan yang terbaik. 

Selain itu jodoh  memang nggak bisa dipatok, maunya nikah selesai kuliah eh semester pertama udah ada yang ngelamar. Maunya nikah umur 22, eh sampai 29 belum ada juga. Jodoh memang misteri Ilahi *senandungkan lagu Ari Lasso disini*.

Meskipun begitu yang kita lakukan adalah tetap ikhtiar dan melakukan hal positif. Misalnya gini lho, kita tahu kita udah pengen dan siap menikah tapi jodohnya belum ada. Maka kita bisa fokus dulu terhadap karir, pendidikan, kegiatan sosial, dan sebagainya. Jangan sampai hidup cuma diisi kegalauan tentang jodoh. 

Takutnya kalau nggak diisi dengan kegiatan positif, akan mudah baper dan sakit hati ketika pertanyaan "kapan nikah?" datang.

Dulu waktu single saya sering ditanyain "kapan nikah?" jadinya ketika saya beneran menikah saya seolah-olah balas dendam gitu, jadi sering nanyain "kapan nikah?" ke teman-teman. Sampai pernah lho sahabat saya jujur bahwa saya menyebalkan karena terlalu sering nanyain "kapan nikah?" padahal saya nggak tahu latar belakang setiap orang beda-beda. Ada yang sudah menjalankan hubungan lama tapi kandas nggak sampai pelaminan. Rasanya makin sakit kan, kalau orang terus bertanya "Kapan nikah?"

Sejak itu saya mikir, kadang kita yang sudah menikah duluan ini merasa hebat dan bisa memotivasi orang lain untuk segera menyusul. Tapi caranya salah. Karena balik lagi ke tulisan di atas, jodoh itu rahasia Allah yang kita nggak tahu kapan datangnya. Mentang-mentang seumuran bukan berarti teman kita juga harus menikah diumur yang sama, kan?

Makanya sekarang saya pelan-pelan mengubah kebiasan itu. Saya pikir ada banyak hal lain yang bisa ditanyakan. Bisa tanya tentang kesibukannya sekarang, dimana tinggal sekarang, atau isu-isu terkini yang sedang dibahas media. 

Oh ya kalau kita benar-benar peduli sama jodoh sahabat kita, doakan aja setiap habis sholat. Benar-benar sebut namanya. Cara ini adalah cara yang paling tulus karena kita nggak egois meminta hajat sendiri dalam do'a kita tapi justru meminta hajat orang lain. Selain itu juga dapat pahala, kan. 

Sekarang kalau ada teman yang curhat tentang kegalauan karena belum ketemu jodoh saya bisa bilang untuk santai dulu. Berprasangka baik sama Allah pasti ngasih yang terbaik disaat yang tepat. Karena saya sudah menikah, saya bisa bilang menikah itu isinya nggak cuma romantisan doang, atau ena-ena doang, wkwkkw. Ada banyak batu kerikil di perjalanan, mungkin Allah pengen kita menjadi kuat mental dulu sebelum menikah karena memang dalam pernikahan itu ada aja cobaannya. 



Saya sering lho ngerasa kangen bisa aktif lagi di komunitas, kangen ngebolang traveling sendiri gitu. Sekarang atas dasar mengabdi dengan keluarga tentu saya nggak bisa seperti itu lagi, karena segala sesuatu harus atas dasar izin suami. 

Jadi ketika sekarang kamu masih punya banyak waktu, lakukanlah kegiatan positif sebanyak-banyaknya. Mikirin jodoh boleh, tapi jangan sampai galau dan jadinya benci sama orang-orang yang bertanya. 

Yakinlah pertanyaan-pertanyaan itu nggak akan ada habisnya. Buktinya saya sudah nikah dan punya anak, tapi masih bersambung pertanyaannya menjadi "Kapan Mukhlas punya Adek?".

Tentang menyikapi pertanyaan itu, saya bahas di postingan berikutnya ya. 

Intinya, lebaran kan jadi ajang silahturahmi. Jangan pula kita jadi keki atau sensi sama anggota keluarga dengan pertanyaan itu. Selain menjawab "tolong doain aja" kita juga bisa cuma jawab dengan senyum doang. Kalau ditanya kenapa cuma senyum bilang aja lagi sakit gigi kebanyakan makan rendang. 

Tapi kalau ada juga anggota keluarga yang masih rese', kamu cukup bilang :



Nah, gimana kalau teman-teman punya pengalaman apa terhadap pertanyaan "Kapan Nikah?" Sharing di kolom komentar, ya. 

Baca juga "RelationTips" Lainnya :