Disclaimer : ini bukan review film yak, biar nggak salah ekspetasi :p


Dulu saya mikirnya nggak akan bisa menikah dengan orang yang baru saya kenal. Rasanya akan sangat canggung memulai rumah tangga yang seumur hidup dengan orang yang baru dikenal beberapa bulan. Saya pikir tentu akan lebih asik kalau menikah dengan orang yang sudah lama kita kenal perangainya, lingkungannya, keluarganya, ya seperti teman sendiri. "Teman tapi menikah", mengutip istilah pasangan Ayudia dan Ditto. 


Gara-gara sugesti itu juga saya memang entah kenapa beberapa kali bisa suka sama teman sendiri. Ada kan tipe orang yang sampai kiamat pun dia nggak akan bisa suka sama temannya karena memang nganggap teman nggak lebih. Tapi kalau saya justru karena sering bareng-bareng sama teman yang itu bisa jadi suka. Jaman sekolah dan kuliah beberapa kali sempat seperti itu, sampai-sampai saya pikir apa benar nanti saya akan menikah dengan teman saya sendiri? tapi yang mana? 

Dulu itu saya pikir, tentu akan enak kalau bisa menikah dengan teman sendiri. Kita pasti nggak akan canggung lagi untuk beradaptasi karena sudah saling kenal. Kita juga pasti akan dengan mudah untuk komunikasi karena sudah berteman lama. Nggak akan ada namanya jaim-jaiman karena memang kita adalah teman. 


Sedangkan kalau menikah dengan orang yang baru dikenal pasti ada rasa sungkan, butuh waktu yang entah lama atau sebentar untuk beradaptasi. Saya juga bingung bagaimana cara mengungkapkan apa yang ada di hati dan di benak saya, karena kita awalnya bukan teman. Kita dulu niat kenalan memang karena sama-sama ingin menikah. 

Ada yang sama kayak saya dulu? *nyari temen*

Pada kenyataannya hal itu nggak terbukti. Nggak ada teman yang mau menikah dengan saya, wkwkwk. Intinya sempat menjalankan hubungan spesial dengan teman sendiri, ujung-ujungnya juga nggak sampai pelaminan. Uniknya, saya malah menikah dengan pria yang baru saya kenal beberapa bulan saja. Proses kenal itu kira-kira Oktober 2015, lamaran Januari 2016 dan akad nikah April 2016. Singkat, padat, dan memikat. 


Gimana saya akhirnya bisa menikah dengan mas Agus sudah pernah saya ceritakan postingannya di atas. Intinya saya sendiri nggak nyangka ternyata jodoh saya bukan berasal dari lingkaran pertemanan. Saya yang dulu mikirnya mustahil bisa nikah sama orang yang baru kenal ternyata bisa dan bahagia sampai sekarang. 

Kuncinya ternyata hanya satu : KOMUNIKASI

Salah satu hal yang bikin saya yakin mau menikah dengan mas Agus meski dia bukan teman saya sebelumnya, karena saya nyambung ngobrol sama dia. Sewaktu masa pendekatan, kami justru ngobrol banyak hal tentang visi misi menikah, latar belakang keluarga masing-masing, pandangan tentang keuangan, hobi, dan hal-hal yang membuat kami menimbang apakah jika kami menikah kami akan cocok.

Baca : Tips Membahas Keuangan Dengan Calon Suami/Istri

Ternyata baik saya dan dia merasakan hal yang sama. Saya orangnya banyak omong, sedangkan dia pendengar yang baik. Dia merasa butuh orang yang kayak saya untuk mengisi hari-hari dia yang sepi #eaak, dan saya butuh orang seperti dia untuk mengimbangi saya yang meledak-ledak ini. 

Alhamdulillah terbukti justru kami bisa menjadi teman setelah menikah. 

Teman dalam artian yang memang mau mengenal kepribadian satu sama lain, melepaskan rasa malu dan mau seru-seruan bareng. Misalnya nih ya, tetangga tiba-tiba mutar musik india kencang-kencang. Kita bisa saling pandang barengan, terus joget barengan, dan ngakak karena kita bisa kompakan tanpa aba-aba gitu. Atau ketika saya menirukan dialog tokoh film yang lagi hits. Misal pas heboh film Ayat-Ayat Cinta 2 saya pulang kantor langsung manggil suami dengan nama "Fahri" dia langsung nyambung dengan manggil saya "Aisha". Gitu juga dengan Film Dilan dan Milea. Palingan kalau tetangga yang dengar bakanlan mual dan diare. wkwkw.



Kita juga bisa jadi teman curhat. Semenjak saya ikut mas Agus pindah ke Tebo, otomatis saya jauh dari keluarga dan sahabat-sahabat saya di Jambi. Bahkan dulu di kantor itu saya satu-satunya pegawai perempuan, kebayang makin nggak ada teman asik buat ngobrolnya, kan. Untungnya mas Agus mau jadi pendengar yang baik, mau ikutan update sama hal-hal yang lagi happening hanya demi saya ada teman ngobrolnya. Begitu juga dengan dia, dulunya dia itu pendiam sekarang mah udah lancar banget ceritanya ke saya. 

Dia juga orang yang paling mendukung saya dalam berbagai hal. Mau bantu jaga anak kalau saya ke kantor dan nggak ada yang bisa dititipin. Mau bantu cuci baju sementara saya nyusuin Mukhlas. Mau ngajak anak main sementara saya ngeblog. Dia juga fotografer pribadi saya kalau lagi ada job bikin konten instagram/blog. Mau jadi pemeran untuk video sketsa pendek kalau saya lagi ikut lomba, dan masih banyak lagi andilnya dalam peran saya sebagai istri, ibu, karyawati, dan blogger. 

Sebagai teman pun, kita sering banget bertukar pikiran dan diskusi. Dalam banyak hal seperti rumah tangga, keuangan, gaya pengasuhan anak, isu-isu yang lagi hits di media, dll. Apalagi mas Agus itu nggak hobi baca, lebih hobi nonton. Jadi kalau saya dapat ilmu dari buku atau artikel yang saya baca, untuk menyatukan visi saya harus sampaikan lagi secara lisan ke dia. Untungnya dia mau mendengar dan kasih masukan kalau dia dapat informasi lagi dari video yang ditonton. 

Intinya dua tahun ini saya merasa beruntung meski nggak menikah dengan teman sendiri, tapi saya bisa jadi teman dengan orang yang menikahi saya. 

Sejujurnya, sebagai manusia biasa. Suami saya tentu punya kekurangan juga. Namun kebaikan-kebaikannya yang saya sebut di atas karena saya memilih untuk bersyukur dengan kelebihannya bukan mengutuki kekurangannya. Toh, kalau mau menimbang saya pun juga banyak kekurangannya. 

Saya berusaha untuk tidak membandingkan kehidupan saya dengan orang lain termasuk dengan suami. Misal nih ya, bulan ini saya dapat atasan baru. Ternyata dia itu teman angkatan mas Agus, umurnya pun sama. Kebayang nggak tuh, seangkatan dan seumuran tapi dia udah punya jabatan sedangkan mas Agus masih staf biasa. 

Kalau satu sisi hati ingin membandingkan mungkin mudah saja saya menjadi orang yang tidak bersyukur. Tapi saya memilih sisi lain untuk mengingat dan menuliskan kebaikan-kebaikannya agar saya tidak menjadi kufur. 

Hari ini, 22 April 2018 tepat dua tahun kami menikah. I just wanna say to my husband, I am happy to be your "friend" of life. Semoga kita tetap jadi teman hidup untuk seru-seruan, menikmati naik turunnya dinamika kehidupan. Menikmati manisnya suka dan getirnya duka, menikmati rasa amarah dan cemburu berbalut cinta.



Semoga kita bisa sama-sama jadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Menjadi panutan yang baik untuk anak-anak kita. Dan bisa tetap joget india sama-sama. 

Ternyata, bukan teman juga bisa menikah kok. 

Maap ya kalau rada alay kali ini, namanya juga lagi anniversary. Nggak mau kalah gitu dengan ABG-ABG, meski kita ngerayainnya bukan dengan main tik-tok, hihihi. 

Kalau kalian gimana? enaknya teman tapi menikah atau bukan teman tapi menikah?