Sadar nggak sih banyak banget mitos-mitos menyusui yang beredar di lingkungan kita? alhasil niat awal ibu baru yang semangat menyusui  lama-lama kendor karena termakan mitos-mitos tersebut. Bahkan seorang ibu bisa gagal memberi ASI hanya karena masukan orang-orang sekitar yang padahal mitos, alias nggak benar. 

Dari jaman belum menikah, saya sudah banyak mendengar mitos tentang ibu menyusui dan dunia per-ASI-an. Sampai saya bertekad kalau jadi busui saya mau mematahkan mitos tersebut bahkan di depan orang yang bilang, haha.

Baca : Cerita Persalinan (Pengalaman Operasi Caesar)


Bukan saya nggak menghargai saran orang-orang yang sudah lebih dulu berpengalaman, hanya saja pengalaman harus sejalan dengan ilmu yang berkembang. Makanya saya lebih berpatokan pada literatur yang saya baca dan juga kata-kata dokter. Karena sebuah buku dibuat dari penelitian dan survey, dan seorang dokter sudah mempelajari ilmu di bidangnya selama bertahun-tahun. Maka tentu sumber tersebut lebih terpercaya dan masuk akal. 

Apa saja sih mitos-mitos yang saya dengar dan berhasil saya patahkan selama setahun lebih menjadi busui?

"Ibu menyusui selama 40 hari awal cuma boleh makan sayur bening dan nasi putih. Biar ASInya lancar"

Wagelaseh, kalau empat puluh hari cuma dijejelin nasi putih dan sayur bening yang ada bosan dan eneg. Padahal faktanya ibu menyusui boleh makan dan minum apapun selama tidak menimbulkan reaksi alergi pada ibu dan bayi. Tentu saja kandungan gizi juga diperhatikan. Kita kan juga butuh protein dan lemak dari lauk pauk, bukan cuma serat dan vitamin dari sayuran. 

Apalagi kalau orang seperti saya yang doyan ngemil, makan cake justru jadi ASI Booster buat saya. Salah satu hormon penghasil ASI adalah Oksitosin, hormon cinta atau hormon kebahagiaan. Apapun yang membuat ibu menyusui bahagia, itu bisa merangsang hormon oksitosin untuk bekerja dan mempengaruhi kuantitas ASI.

My Asi Booster. Source : Pixabay


Lagian busui pasti dikit-dikit lapar, kasian kalau cuma dikasih nasi putih sama sayur bening doang. 

"Jangan minum es, nanti susunya dingin, anaknya demam"

Saya sempat bengong waktu pertama dengar kalimat di atas. Ya kali payudara kita bisa kayak dispenser, ada hot n coolnya sekalian bisa nyeduh kopi dong. Padahal ASI selalu dalam keadaan hangat yang pas untuk diminum bayi.  Toh buktinya saya minum es, Mukhlas nggak demam. Dia demam kalau lagi kena virus atau kecapekan.

Follow deh Ayah Asi di Instagram, banyak ilmu tenteng mitos dunia ASI


"Kalau pas menyusui bayi gelisah, tandanya ASI kamu sedikit"

Nggak ada patokan ASI banyak atau sedikit, apalagi kondisi ibu dan kebutuhan masing-masing bayi berbeda. Kalau bayi gelisah saat menyusui banyak faktor yang mempengaruhi. Lingkungan yang terlalu berisik, popok basah, pelekatan belum pas, ingin ditimang-timang, cahaya lampu kamar terlalu menyilaukan, AC terlalu dingin, dll. 

Hal itu sudah saya buktikan, kalau Mukhlas popoknya bersih dan pelekatannya pas maka dia akan anteng menyusu sampai tertidur.

kenyang habis nenen


"Lewat setahun ASI sudah mulai basi"

Emangnya ASI sama kayak gulai santan bisa basi. Maksud disini ASI yang masih di payudara ibu ya, kalau ASIP tentu bisa basi jika tidak disimpan dengan benar. Aneh aja gitu ada yang bilang ASI di dalam PD ibu bisa basi. Tahu darimana cobak? itu sama sekali nggak benar. Dari segi medis dan agama Islam dianjurkan untuk menyusui sampai anak berumur dua tahun. 

"Bayinya nangis terus, ASInya nggak cukup tuh"

Ini juga sudah pernah saya bahas di postingan sebelumnya. Namanya bayi, satu-satunya cara dia berkomunikasi bahwa dia membutuhkan sesuatu ya dengan menangis. Kalau lapar dia nangis, kalau haus dia nangis, kalau popoknya basah dia nangis, minta digendong dia nangis, ditinggal gebetan dia nangis.

Jadi jangan buru-buru memberikan MPASI Dini (Sebelum 6 bulan) atau memberikan susu formula pada anak. Kecuali kalau semua cara sudah dicoba, bisa bawa ke dokter spesialis anak untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Anak demam, ibunya harus minum paracetamol juga"

Meskipun memang obat yang diminum ibu bisa berpengaruh ke ASI tapi tentu hanya sepersekian persen. Tidak cukup untuk mengobati bayi. Lagian aneh banget ibunya sehat-sehat aja kok minum obat. Kalau anak demam, memang harus diberi ASI sesering mungkin. Kalau diperlukan anaknya yang dikasih paracetamol, bukan ibunya. 


"Menyusui itu bikin rambut rontok"

Ternyata nggak kok, saya biasa aja rambutnya. Pastilah ada rontok-rontok dikit tapi dari sebelum saya menikah juga sudah begini kondisinya. Bayangin kalau mitos itu benar, sekarang saya pasti sudah botak karena sudah setahun lebih jadi ibu menyusui. 

"Pd kecil ASInya sedikit"

Padahal ASI keluar bukan karena tergantung ukurannya, tapi hormon yang mempengaruhi dan seberapa sering kita mengeluarkannya. Semakin sering disusui, ASI semakin mengalir. Nggak mempengaruhi ukuran. Jangan sampailah ada yang ngomong begini lagi ke ibu -ibu yang emang dari sononya sudah kurus. Kalau mereka jadi nggak PD, justru itu yang bikin ASI seret dan lama-lama malah beneran mikir kalau gara-gara PDnya kecil dia nggak berhasil memberi ASI ekslusif. 

"Jangan makan pedas, nanti anaknya mencret"

Apapun yang kita makan tentu akan berpengaruh ke anak, tapi bukan berarti bentuknya plek sama ya. Misalnya makan bakso kuah pedas, ASI langsung berasa kuah bakso. Ya nggak gitu. Anak hanya bisa merasakan sensasi rasanya, bukan rasa beneran. Jadi kalau makan pedas bukan berarti anak juga kepedasan pas minum susu. Hanya saja kita juga harus bisa membatasi, kalau kebanyakan makan pedas kita juga bakalan sakit perut, kan. 

Sejauh ini selama menjadi busui saya makan apa saja termasuk makan pedas dan nggak pernah Mukhlas sakit perut karena saya makan sambal.

***

Itu dia mitos-mitos menyusui yang saya patahkan. Menjadi ibu itu sudah berat, harus urus keperluan anak dari pagi, bahkan malam nggak jarang harus begadang. Tidur pun sambil menyusui. Jadi penting banget untuk membuat pikiran tenang dan hati senang. Jangan ditambahin kepikiran mitos-mitos yang aneh. 

Satu-satunya cara menangkal mitos-mitos tersebut adalah memperbanyak pengetahuan tentang dunia ASI. Selain baca buku kita bisa konsultasi ke dokter. Kita juga manfaatkan teknologi dengan follow akun-akun media sosial yang memang concern tentang pemberian ASI. Pastikan juga sumber yang mereka pakai berasal dari literasi dan dunia kedokteran. Saya juga suka menonton video dr.Tiwi di youtube. Beliau salah satu dokter spesialis anak yang gemar berbagi ilmu di channel youtubenya.Untuk orang yang tinggal di daerah kecil seperti saya, video-video beliau sangat membantu. Dapat ilmu bergizi langsung dari ahlinya tanpa keluar rumah, gratis pula. 






Buibuk pernah dapat mitos tentang menyusui? cerita di kolom komentar, ya.