Setuju nggak sama quote yang saya buat di atas?

Setiap hari kita berinteraksi dengan orang lain mulai dari tetangga, teman-teman kantor, keluarga besar, bahkan lebih luas lagi kita bisa berinteraksi dengan siapa saja di dunia maya. 


Interaksi itu bisa saja mendatangkan nilai-nilai positif seperti silahturahmi, tawaran pekerjaan, atau sekedar obrolan ringan dan hiburan. Tapi interaksi itu juga bisa membuat kita membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. 

Misal ngobrol sama tetangga, tetangga cerita baru beli rumah baru untuk anak keduanya. Sedangkan untuk anak pertamanya sudah ada di daerah lain. Hal itu membuat kita punya dua sudut pandang. Pertama, ikut bahagia dengan kabar baik dari tetangga. Kedua, membandingkan dengan kita yang belum punya aset apa-apa. Boro-boro persiapan aset untuk anak, rumah yang ditempatin sekarang aja masih ngontrak. 

Atau bagi yang belum menikah, suatu hari ketemu teman waktu SMA. Setelah saling sapa dan ngobrol, kita tahu ternyata dia sekarang sudah bekerja dan menikah. Di satu sisi senang mendengar kabar tersebut, di satu sisi mengasihani diri sendiri yang kemana-mana masih sendiri.

Ada yang seperti itu? hehe. 

Saya juga kok. 

Manusiawi rasanya kita punya rasa iri dengan kehidupan orang lain. Tapi, jangan sampai perasaan itu kita pelihara. Sehingga nggak ada habisnya setiap hari sibuk membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Kalau bertemu dengan orang yang lebih segalanya di atas kita, kita merasa iba pada diri sendiri dan bertanya-tanya kapan aku seperti dia? sedangkan jika bertemu dengan orang yang lebih rendah kita menjadi jumawa karena merasa lebih berhasil daripada dia. 

Hempaskan perasaan itu jauh-jauh permisaaaaah...!!!

Hidup ini cuma sekali, bahagikanlah diri semampunya. 

Salah satu cara bahagia adalah berhenti membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. 

Kalaupun sampai terlintas di hati membandingkan-membandingkan kehidupan, cepat-cepat bawa istigfar. Percayalah, Allah itu Maha Adil. Mungkin kita belum punya rumah, tapi mungkin sepanjang hidup kita belum pernah sakit parah. Mungkin kita belum menikah, tapi mungkin Allah berikan kelancaran rezeki yang melimpah. 

Bakalan capek hati sendiri kalau terus-terusan membandingkan hidup kita dengan orang lain, apalagi kehidupan orang di Instagram, wkwkw. Jangan coba-coba!!

Dulu saya gampang baperan main Instagram. Kalau lihat teman upload makan enak di restoran, kepengen juga. Masih mending kalau makanan ya, bisalah diikutin. Tapi kalau lihat orang upload jalan-jalan ke luar Negeri sedangkan saya belum mampu, nyesek rasanya. Terus merengek ke suami minta hal yang sama, padahal saya tahu persis berapa penghasilan suami. Dari raut wajahnya ingin sekali mengabulkan permintaan saya tapi dia belum mampu. 

Sampai pernah suami saya bilang "kalau adek terus maksa, mas jadi kepikiran terus. Emangnya adek mau mas cari jalan pintas demi mengabulkan keinginan adek?"

JLEB!!!

Saya langsung minta maaf. Saya nggak mau gara-gara saya suami justru berbuat dosa, menghalalkan yang haram demi menyenangkan saya. 

Segitu parahnya dampak dari membandingkan kehidupan. 

Mulai dari situ sih saya belajar untuk stop membandingkan. Kalaupun iya, saya akan membandingkan nikmat yang Allah berikan dengan apa yang saya belum punya. Hasilnya? nggak imbang. Pemberian Allah bahkan yang tanpa saya minta lebih banyak nikmatnya daripada dukanya. 

Saya mungkin belum punya rumah, kendaraan masih nyicil. Tapi saya diberi suami yang perhatian, anak yang sehat, dengan saudara saya akur, nggak ada konflik berarti. Pekerjaan saya lancar-lancar aja, sering pula diberi rejeki tambahan di luar pekerjaan utama. 


Hal-hal indah yang kita lihat pada hidup orang lain bisa jadi karena kita melihatnya dari satu sisi saja. Toh, kita nggak masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Mungkin orang lain bisa jalan-jalan ke luar negeri karena sekalian berobat atas sakit menahunnya. Mungkin orang lain bisa punya rumah mewah karena itulah penghargaan atas kerja kerasnya dulu yang pernah tinggal di jalanan. 

Sekarang saya jauh lebih mendingan. Kalaupun main Instagram dan ngelihat yang enak-enak, ya itu tadi pikiran saya langsung bilang bahwa kita nggak tahu semua sisi kehidupan orang. Melalui instagram dia memilih untuk menyajikan kehidupan yang kita lihat "kayaknya hidup dia enak banget sih". Padahal pasti ada perjuangan berdarah dan kisah duka dibaliknya.

Malah sekarang saya jadiin motivasi untuk terus berkarya dan menghasilkan rupiah. Misal saya juga kepengen banget ajak keluarga liburan ke luar kota. Alih-alih cuma iri melihat orang upload foto liburannya, lebih baik saya banyakin nulis biar dapat sponsored post, wkwkw. Duitnya ditabung, deh. 

Hidup cuma sekali, harus dibikin happy.
Jangan pernah iri, cuma bikin sakit hati.
Lihat orang sukses, jadikan motivasi.
Karena Bahagia itu kita yang tentukan sendiri.


Ada yang pernah merasakan hal serupa? membandingkan kehidupan dengan orang lain? Ceritain di kolom komentar, ya.